EKSISTENSI YANG HAMPIR MATI

Januari 26, 2009

eksistensi yang hampir mati

sudah hampir jam sepuluh pagi ketika kusadari lamunanku berhenti di sini. di sebuah tempat yang kuinjakkan kaki saat ini. mengenang sebuah eksistensi yang hampir mati…

punah. punahlah sudah yang tewas. yang tercerai berai dari populasi dan tidak bisa melanjutkan populasi. keberadaannya pergi entah kemana.

eksistensi itu cuma mimpi di siang hari yang menuntut untuk segera terjadi. dibalik semua omongannya, eksis dan tensi sungguh pemberani. eksis lahir ke bumi dari dari ibu seorang peri pujaan hati. ibunya lalu pergi entah kemana meninggalkannya sendiri. sedangkan tensi ikut kakek neneknya sedari kecil. lalu mereka bertemu ketika sedang menjaring ikan pari di laut bali. merasa senasib,mereka lalu bersahabat. sahabat yang menjadi saudara. saudara yang menjadi keluarga.

dimana eksis? dimana tensi? mereka telah menyatu ciptakan eksistensi. lalu dimana eksistensi?

“keberadaanku perlu diakui”,kata Eksis suatu hari.
“bah! bagaimana eksistensi bisa diakui? kita ini cuma anak terbuang,Sis… yang rindukan perhatian dan kasih sayang”
“hahaha. benar juga! bahkan Ibu kita sendiri tak mau menerima!”,Eksis tertawa lebar.
“menyedihkan!”,gumam Eksis lagi.
“oke kalau begitu mari kita lakukan..”,kata Tensi
“lakukan apa?”
“kita merger”
“bah! macam bank saja kau ini. biar nggak dilikuidasi? hahahaha!”
“hei jangan banyak protes kamu,Sis! lihat saja… akan kita tunjukkan pada dunia hingga mereka yang membuang kita menyesal untuk selamanya”
“sakit jiwa kau Ten!”
“demi keberadaan kita,Sis… yang kuat yang diakui. yang diakui itu yang dipandang. yang dipandang itu dapat penghormatan”
“hormat benderaaa GRAK! hahaha”,Eksis melucu sambil menirukan gerakan pasukan pengibar bendera.
“terus bagaimana?”,lanjut Eksis lagi.
“kita bertindak,Ten. buktikan kalau kita ada! kita nyata!”
“caranya?”
“manfaatin peluang dooong… kayak nggak pernah diajar melaut saja sih kamu!”
“okeoke mari kita susun rencana… mulai peluang dari mana?”

dan semua pun berlanjut hingga eksis merger dengan tensi. menciptakan sebuah eksistensi. keberadaan untuk mereka sendiri. di tengah pulau sepi itu. sambil menunggu nelayan pulang-pergi datang silih berganti. eksistensi yang hampir mati kini kembali.

***

dalam sebuah kenangan,katanya. mari kita mengenang apa yang pantas dikenang. atau yang seharusnya dikenang? memori sebuah perjalanan. dasar eksistensi yang hampir mati! nyawamu taruhannya. hidupmu hampir punah. sadarlah! jika tak cepat-cepat kau benahi maka….

“maka apa?”
“makanan kambing!”
“dilaut mana ada kambing Ten! sehelai rumput pun tak mau tumbuh di sini!”
“nah itu dia… kita hidup di negeri macam apa sih?”
“juga tempat macam apa! apa sih salah kita sampai terasing seperti ini? macam kapal terdampar saja”
“salah laut tuh! salahnya laut punya ombak”
“lhaah kalau nggak ada ombak mana ada ikan yang mau datang terbawa arus?”
“bodo ah! yang jelas aku tidak bisa lihat rumput dan kambing di sini”
“aku nggak ngerti Ten… apa yang kau omongkan…”
“intinya: kita harus berhasil. titik! berhasil buktikan kalau kita ini ada”
“lalu apa masalahnya?”
“masalahnya adalah tempat macam apa pulau ini? tidak ada pemimpin sejati”
“jangan kau katakan tentang pemimpin pulau. MUAK aku mendengarnya! semua nggak ada yang bener”
“betul!”
“tahun depan aku mau golput sajalah”
“aku ikut yah. hehehe”

sore itu eksistensi mengukuhkan diri. tentang keberadaan mereka di pulau ini. menyelamatkan kapal nelayan yang hampir karam karena serangan hiu yang ganas sekali. cuaca dan badai yang buruk membuat tak ada seorangpun yang berani terjun melalui ombak-ombak ganas itu.
“astaghfirullah…”,seorang Mak tua mengelus dada menyaksikan pemandangan itu. memeluk anak perempuannya yang lebih muda menenangkannya. yang berada di kapal itu tak lain tak bukan adalah menantunya.
“innalillahi wa inna illaihi rojiun…”,kata seorang laki-laki separuh baya yang berdiri dibelakang Mak pasrah.
“HEI jangan dilihat aja dong. ayo dibantu!”,Tensi setengah berteriak
“jangan sok tahu kamu anak muda! tahu apa kamu tentang ombak dan badai di laut? minum air garam saja nggak pernah… berani-beraninya mengatur orangtua!”
“bah! cuma orang bodoh saja yang mau minum garam”,timpal Eksis kesal.

eksis dan tensi terjun ke laut. orang-orang itu memang sudah tak menginginkannya sejak dulu. jadi biarlah jika mereka mati kali ini lagipula hal itu tak akan jadi persoalan besar. yang penting nyawa nelayan yang di tengah lautan itu bisa tertolong atau minimal membawa jenazahnya kembali ke darat supaya bisa dimakamkan.

eksistensi berhasil membuktikan diri. dengan membawa pulang jenazah Mas Yanto. mereka pahlawan yang sebelumnya hanyalah mimpi sebuah eksistensi.. eksistensi yang hampir mati kini sudah diakui. mungkin nyawa perlu disertakan dan niat perlu diluruskan serta diikhlaskan baru eksistensi diakui di pulau ini….. bersamaan dengan tatapan-tatapan keji itu dan bisikan-bisikan benci harus kuat untuk dilalui. sekali lagi eksistensi yang hampir mati kini kembali. menahan diri untuk tidak membenci, eksistensi berbesar hati. merger ini sukses! besok mereka akan jadi bank yang selamat dari likuidasi.

26/1/09

EKSISTENSI YANG HAMPIR MATI

Januari 26, 2009

eksistensi yang hampir mati

sudah hampir jam sepuluh pagi ketika kusadari lamunanku berhenti di sini. di sebuah tempat yang kuinjakkan kaki saat ini. mengenang sebuah eksistensi yang hampir mati…

punah. punahlah sudah yang tewas. yang tercerai berai dari populasi dan tidak bisa melanjutkan populasi. keberadaannya pergi entah kemana.

eksistensi itu cuma mimpi di siang hari yang menuntut untuk segera terjadi. dibalik semua omongannya, eksis dan tensi sungguh pemberani. eksis lahir ke bumi dari dari ibu seorang peri pujaan hati. ibunya lalu pergi entah kemana meninggalkannya sendiri. sedangkan tensi ikut kakek neneknya sedari kecil. lalu mereka bertemu ketika sedang menjaring ikan pari di laut bali. merasa senasib,mereka lalu bersahabat. sahabat yang menjadi saudara. saudara yang menjadi keluarga.

dimana eksis? dimana tensi? mereka telah menyatu ciptakan eksistensi. lalu dimana eksistensi?

“keberadaanku perlu diakui”,kata Eksis suatu hari.
“bah! bagaimana eksistensi bisa diakui? kita ini cuma anak terbuang,Sis… yang rindukan perhatian dan kasih sayang”
“hahaha. benar juga! bahkan Ibu kita sendiri tak mau menerima!”,Eksis tertawa lebar.
“menyedihkan!”,gumam Eksis lagi.
“oke kalau begitu mari kita lakukan..”,kata Tensi
“lakukan apa?”
“kita merger”
“bah! macam bank saja kau ini. biar nggak dilikuidasi? hahahaha!”
“hei jangan banyak protes kamu,Sis! lihat saja… akan kita tunjukkan pada dunia hingga mereka yang membuang kita menyesal untuk selamanya”
“sakit jiwa kau Ten!”
“demi keberadaan kita,Sis… yang kuat yang diakui. yang diakui itu yang dipandang. yang dipandang itu dapat penghormatan”
“hormat benderaaa GRAK! hahaha”,Eksis melucu sambil menirukan gerakan pasukan pengibar bendera.
“terus bagaimana?”,lanjut Eksis lagi.
“kita bertindak,Ten. buktikan kalau kita ada! kita nyata!”
“caranya?”
“manfaatin peluang dooong… kayak nggak pernah diajar melaut saja sih kamu!”
“okeoke mari kita susun rencana… mulai peluang dari mana?”

dan semua pun berlanjut hingga eksis merger dengan tensi. menciptakan sebuah eksistensi. keberadaan untuk mereka sendiri. di tengah pulau sepi itu. sambil menunggu nelayan pulang-pergi datang silih berganti. eksistensi yang hampir mati kini kembali.

***

dalam sebuah kenangan,katanya. mari kita mengenang apa yang pantas dikenang. atau yang seharusnya dikenang? memori sebuah perjalanan. dasar eksistensi yang hampir mati! nyawamu taruhannya. hidupmu hampir punah. sadarlah! jika tak cepat-cepat kau benahi maka….

“maka apa?”
“makanan kambing!”
“dilaut mana ada kambing Ten! sehelai rumput pun tak mau tumbuh di sini!”
“nah itu dia… kita hidup di negeri macam apa sih?”
“juga tempat macam apa! apa sih salah kita sampai terasing seperti ini? macam kapal terdampar saja”
“salah laut tuh! salahnya laut punya ombak”
“lhaah kalau nggak ada ombak mana ada ikan yang mau datang terbawa arus?”
“bodo ah! yang jelas aku tidak bisa lihat rumput dan kambing di sini”
“aku nggak ngerti Ten… apa yang kau omongkan…”
“intinya: kita harus berhasil. titik! berhasil buktikan kalau kita ini ada”
“lalu apa masalahnya?”
“masalahnya adalah tempat macam apa pulau ini? tidak ada pemimpin sejati”
“jangan kau katakan tentang pemimpin pulau. MUAK aku mendengarnya! semua nggak ada yang bener”
“betul!”
“tahun depan aku mau golput sajalah”
“aku ikut yah. hehehe”

sore itu eksistensi mengukuhkan diri. tentang keberadaan mereka di pulau ini. menyelamatkan kapal nelayan yang hampir karam karena serangan hiu yang ganas sekali. cuaca dan badai yang buruk membuat tak ada seorangpun yang berani terjun melalui ombak-ombak ganas itu.
“astaghfirullah…”,seorang Mak tua mengelus dada menyaksikan pemandangan itu. memeluk anak perempuannya yang lebih muda menenangkannya. yang berada di kapal itu tak lain tak bukan adalah menantunya.
“innalillahi wa inna illaihi rojiun…”,kata seorang laki-laki separuh baya yang berdiri dibelakang Mak pasrah.
“HEI jangan dilihat aja dong. ayo dibantu!”,Tensi setengah berteriak
“jangan sok tahu kamu anak muda! tahu apa kamu tentang ombak dan badai di laut? minum air garam saja nggak pernah… berani-beraninya mengatur orangtua!”
“bah! cuma orang bodoh saja yang mau minum garam”,timpal Eksis kesal.

eksis dan tensi terjun ke laut. orang-orang itu memang sudah tak menginginkannya sejak dulu. jadi biarlah jika mereka mati kali ini lagipula hal itu tak akan jadi persoalan besar. yang penting nyawa nelayan yang di tengah lautan itu bisa tertolong atau minimal membawa jenazahnya kembali ke darat supaya bisa dimakamkan.

eksistensi berhasil membuktikan diri. dengan membawa pulang jenazah Mas Yanto. mereka pahlawan yang sebelumnya hanyalah mimpi sebuah eksistensi.. eksistensi yang hampir mati kini sudah diakui. mungkin nyawa perlu disertakan dan niat perlu diluruskan serta diikhlaskan baru eksistensi diakui di pulau ini….. bersamaan dengan tatapan-tatapan keji itu dan bisikan-bisikan benci harus kuat untuk dilalui. sekali lagi eksistensi yang hampir mati kini kembali. menahan diri untuk tidak membenci, eksistensi berbesar hati. merger ini sukses! besok mereka akan jadi bank yang selamat dari likuidasi.

26/1/09

1
Malam ini malam tahun baru
Doni temanku dapat sepeda baru warna biru
Nino dan adiknya dapat boneka lucu
Aku dapat pistol mainan baru dari ayahku

2
malam ini malam tahun baru
ingin sekali aku melihat kembang api
tapi belum cukup umur untuk tidur larut malam
akhirnya sebelum malam larut
aku menyusup ke balik selimut
—ibu mengecup keningku
menutup korden
lalu mematikan lampu
membiarkan diri ditelan gelap
ditelan malam
ditelan mimpi
bersama pistol mainan baru
tergeletak di sampingku

3
ibu,
siapa mereka Bu?
aku melihat anak-anak kecil sepertiku berlarian dalam gelap malam membawa pistol besar
mereka bersembunyi di balik reruntuhan bangunan
mengintip lalu menembak
melepaskan suara gaduh di telinga
menggema-gema

ibu,
siapa mereka Bu?
aku melihat adik-adiknya yang lebih kecil menangis
ayah dan ibu mereka tidur pulas di atas tanah
terbujur beku
tak bergerak
dengan baju penuh warna merah
darah
banyak sekali

Ibu,
siapa mereka Bu?
Suasana gaduh sekali
kudengar seribu peluru melesat bertalu-talu tanpa ampun
manusia berlarian
anak-anak menjerit ketakutan

Ibu,
Kenapa mereka Bu?
Katanya perang sudah usai
Penindasan telah berakhir
dan hak-hak asasi dijunjung tinggi
Kenapa masih berperang?
Ratusan nyawa melayang
hilang dalam satu hitungan
menguapkan aroma kemanusiaan
hilang
tiada
lalu binasa

4
teman baruku itu bernama Amir
datang padaku membawa pistol panjang

kenapa tidak ditembakkan saja,tanyaku
dia tersenyum menoleh
“ini pistol sungguhan,teman
tunggu sampai musuh datang”

lalu kukatakan padanya kalau malam ini malam tahun baru
katanya di tahun baru orang-orang mulai harapan baru
cita-cita baru
lalu jadikan kegagalan sebagai pelajaran masa lalu

“malam ini malam tahun baru?”
aku mengangguk

“aku lupa
semua malam di sini sama saja
mencekam”,ucapnya pelan

kenapa tidak ada kembang api disini,tanyaku lagi
“di sini tidak ada kembang api. kami sedang berperang,teman”
perang? kata Pak Guru perang sudah tidak ada lagi perang. dunia sudah damai. manusia punya hak asasi. kenapa masih ada perang?

“ayo kemari ikut aku!”ajaknya
dia berlari menuju tanah lapang bekas runtuhan bangunan
apa yang akan kau lakukan,tanyaku
“aku akan buatkan kembang api untukmu
lihat ke atas!”

lalu dia melepaskan tiga tembakan ke udara
ke arah langit malam
memecah kesunyian
asap mengepul girang
“selamat tahun baru”
ucapnya memamerkan sederet giginya yang ompong satu

5
mataku terbuka pada dinding langit-langit kamar
jam batman menunjukkan tepat jam dua belas malam
tahun baru!
siluet kembang api berpendar-pendar diluar jendela
diiringi suara terompet dan ledakan membahana
—suara mirip seribu peluru
O, malam tahun baru

lalu teringat aku pada Amir
yang membuat kembang api untukku
dengan peluru
kudengar suara serupa
sayup-sayup hampir sama

–di belahan bumi lain
jauh disana
Amir melewati malam tahun baru bersama seribu peluru

1/2009

SALAM DARI NETTO DAN BRUTO

Agustus 2, 2008

SALAM DARI NETTO DAN BRUTO

Puisi: racH

dengarlah,hari ini netto dan bruto menitipkan salam untukmu

katanya kau disuruh memilih diantara mereka berdua

keduanya menawarkan pendapatan yang sama besar,cukup untuk menghidupi seluruh negeri dan pendudukmu. silahkan kau pilih:

pertama,bruto menawarkan tiga perempat hasil penjualan gunung emasnya tanpa dipotong pajak dan biaya lain-lain. kau bisa berbangga karena seratus persen pendapatan yang diberikan untukmu adalah yang terbesar jumlahnya. pendapatan ini mampu mendongkrak anggaran di negerimu. selanjutnya kepercayaan negeri-negeri maju itu akan meningkat lalu berbondong-bondong tanamkan modalnya. taksiran nilai di masa yang akan datang diperkirakan seribu kali lipat dari nilai sekarang. pendapatan itu hanya diberikan sekali,terjadi di muka dan negerimu bisa langsung rasakan hasilnya. untuk penawaran yang sangat baik ini bruto hanya meminta sepuluh persen dari tiap keuntungan yang kau dapat ditambah seribu pulau milikmu

kedua,netto menawarkan tiga perempat hasil penjualan gunung emasnya yang sebelumnya harus dipotong pajak,biaya lain-lain serta dana sosial. netto tidak berani pastikan berapa persen kau diuntungkan dengan pendapatan ini malah dia mengatakan kau harus siap untuk rugi. kau tidak bisa langsung rasakan hasilnya tapi netto menjanjikan pendudukmu bisa tersenyum bahagia. pajak dan dana sosial yang dipotong dari pendapatan yang diberikan itu selanjutnya disalurkan merata ke seluruh warga. tak usah pusingkan investor,pendudukmu adalah investasi jangka panjang negerimu. sejahterakan mereka secara merata maka kau akan melihat hasil yang tak terhingga. kondisi yang aman dan tenang selanjutnya akan mendongkrak iklim berusaha yang pesat pertumbuhannya. pendapatan ini hanya diberikan sekali,terjadi di muka namun perlu waktu dua generasi berganti sebelum negerimu benar-benar merasakan hasilnya. untuk penawaran yang sederhana ini netto hanya meminta pembagian hasil lima persen sesuai dengan keuntungan yang kau terima

nah,sekarang mana yang kau pilih?

netto dan bruto menantikan jawabanmu…

semarang,2 agustus 2008

MANUSIA DALAM KOPER

Juli 26, 2008

BY:RACH

trunki menggeliat. dibukanya tutup koper supaya dapat udara segar. dia adalah trunki,si manusia koper. trunki tinggal di dalam koper besar,usang dan berdebu. koper itu disimpan di loteng lantai tiga rumah Pak Abu. tidak ada yang tahu keberadaannya bahkan keluarga Pak Abu sekalipun. koper itu nyaman bersembunyi di balik tumpukan kardus-kardus tua digelayuti sarang laba-laba.

trunki tidur nyenyak di dalam koper sepanjang tahun. dia hanya keluar jika akhir tahun. ketika keluarga itu pergi mudik atau ketika libur tiba dan rumah jadi sepi. jika keluar ia akan mencari makan. tempat yang paling disukainya adalah kulkas. selain dingin,kulkas juga simpan banyak makanan yang bisa dipilih trunki sesuai selera. setelah makan ia akan berjalan-jalan. menjelajah rumah dari lantai satu sampai lantai tiga. trunki bahagia. jika bahagia dia akan tertawa lalu menari. menari sesuka hati. melompat dengan ceria diiringi alunan kaki. kemudian ia akan menonton tivi sambil meluruskan kaki—kaki yang selalu menekuk jika meringkuk di dalam koper akan terasa leluasa jika diluruskan. sejenak dia menikmati hari singkatnya di luar koper.

kali ini keluarga Abu pergi lama sekali. trunki jadi bosan setengah mati menonton tivi setiap hari. meski terkadang ia juga bermain dan menari tetap saja dia bosan. dipandangnya jendela di dekat tivi. alangkah indahnya pemandangan di luar sana. ada langit biru,pepohonan hijau juga orang-orang yang lewat,berjalan kesana kemari.

trunki ingin sekali keluar tapi ia teringat pesan ayah,ibu dan neneknya. mereka bilang kalau trunki hanya boleh keluar berjalan-jalan di dalam rumah Pak Abu ketika keluarga itu pergi.

“jangan sekali-kali keluar dari rumah,Trunki… berbahaya!”,pesan neneknya tegas.

Trunki sebenarnya ingin bertanya alasannya tapi ia hanya mengangguk saja ketika melihat wajah neneknya yang semakin menyeramkan memandangnya. ayah dan ibunya juga selalu berpesan hal yang sama—dengan wajah yang sama galaknya tentunya. akhirnya trunki mengurungkan niatnya. diputuskannya untuk kembali ke dalam koper saja.

koper itu lebih besar dari kelihatannya. ada dua lapis. lapis pertama mirip pada koper-koper pada umumnya berlatar kain berwarna hitam seperti tempat menyimpan pakaian. lapis di bawahnya dipisahkan oleh ritsleting yang dijahit memanjang. jika dibuka,di dalamnya ada ruangan yang sangat luas—seluas loteng yang ditempatinya kira-kira. dindingnya berwarna oranye dengan hiasan banyak foto di setiap sisinya. itu ruang bermain trunki. di dalamnya banyak sekali mobil-mobilan serta robot-robotan yang disimpan dalam rak besar. jika bosan,trunki bisa bermain game dengan layar seluas sisi dinding (pencet saja tombol di salah satu dinding maka secara otomatis akan langsung berubah menjadi layar).

meski begitu,trunki lebih suka habiskan waktunya dengan tidur seperti warga-warga Koperi lainnya—sebutan untuk manusia yang tinggal di dalam koper seperti dirinya. Ia tidur di lapisan paling atas yang seluas koper sambil menunggu ayah,ibu dan neneknya kembali. ayah,ibu dan neneknya tinggal di koper sebelah. nenek tinggal sendiri sedangkan ayah dan ibunya tinggal bersama dalam satu koper. koper mereka juga punya banyak ruangan seperti koper trunki. tapi sekarang koper itu kosong tak berpenghuni.

semua bermula dari nenek yang keluar mencari makanan. karena kulkas Pak Abu kosong,maka ia pamit untuk pergi ke pasar. ayah dan ibu semula melarang,takut kalau terjadi bahaya pada nenek. nenek berkeras untuk pergi. ibu ingin menemani tapi nenek menolaknya. akhirnya siang itu nenek pergi sendiri. dua hari berlalu,nenek belum juga kembali. ayah dan ibu bingung sekali. tiga hari berlalu,ayah dan ibu memutuskan untuk mencari nenek bersama. trunki ditinggal sendiri. kata ibu,tidak lama. ayahnya juga berkata hal yang sama. “apapun yang terjadi jangan pernah keluar rumah,trunki. kalau kau ingin berjalan-jalan tunggulah sampai rumah sepi”,pesan ayahnya. mereka akan segera temukan nenek lalu kembali. namun hingga hari ini mereka belum juga tiba di rumah.

trunki menggeliat malas. jam di dinding loteng berdentang tujuh kali. itu berarti hari sudah kembali pagi tapi rumah masih sepi. Pak Abu dan keluarganya belum juga pulang. begitu juga dengan Ayah,Ibu dan Neneknya. Trunki hanya bermain seorang diri,kesepian sekali. Ia kembali menari tapi hanya sebentar karena ia tahu perasaannya sedang tak menyenangkan hari ini.

Trunki turun untuk menonton tivi. Ia kemudian ingat kalau hari ini hari ulangtahunnya. hari yang sama dengan ulang tahun ayah dan ibunya. harusnya ibu ada di sini memasak banyak makanan buatnya. juga ayah yang memberikan kado-kado untuknya. sedangkan nenek selalu membuatkan manisan enak yang banyak. trunki menangis. dia lapar sekali dan rindu keluarganya. kulkas Pak Abu isinya sudah hampir kosong. tak ada yang bisa banyak dimakan kecuali es batu dan beberapa helai daun sawi. dipandangnya jendela. dia harus pergi! dia harus keluar,pikirnya. trunki sudah habis kesabaran. dia putuskan untuk keluar rumah meski ayah,ibu dan nenek sudah berkali-kali mengingatkan dan melarangnya.

pintu rumah Pak Abu yang berada di lantai satu berderak terbuka. seorang anak kecil menutupkan salah satu lengannya menghalangi matanya. trunki silau menghalau sinar matahari pagi yang menerpa wajahnya. dibuka matanya perlahan,tak percaya dengan pemandangan dihadapannya. langit biru,pepohonan hijau dan kicau burung yang merdu… trunki melangkah meninggalkan rumah.

**

tidak banyak yang tahu kalau keluarga Pak Abu pindah ke rumah yang baru. rumah lama yang berlantai tiga itu dijual pada seorang pengusaha kaya raya, Pak Tona namanya. hari ini mereka akan mulai menghuni rumah tua itu.

Pak Tona adalah seorang pengusaha sirkus. dia punya lima kelompok sirkus besar yang berkembang di kota. kelompok sirkusnya sering sekali melakukan perjalanan dan pertunjukan di berbagai penjuru negeri. pertunjukan yang paling digemari saat ini adalah Manusia Koper. pertunjukan manusia yang sanggup melipat dirinya masuk ke dalam koper. pertunjukan itu laris sekali hingga banyak penonton rela antri dalam barisan panjang yang tak pernah berkurang.

pemilik sirkus itu sedang mencari Manusia Koper lagi supaya pertunjukannya makin laris. yang didengar dari anak buahnya,ada jenis Koperi yaitu manusia setengah peri yang tinggal di dalam koper-koper tua tersembunyi. jumlahnya sekarang sudah tak banyak lagi. hanya tinggal beberapa puluh saja di negeri ini sisanya sudah lama mati karena terdesak manusia yang makin banyak jumlahnya.

Pak Tona mengangguk-angguk mengerti. asap cerutunya membumbung tinggi memenuhi langit-langit. “kalau begitu cari Koperi-Koperi itu sekarang juga! bawakan yang banyak untukku. buat dia mau bekerja untuk sirkus!”,katanya dengan nada tinggi.

Dodo,anak buahnya menelan ludah ngeri mendengar perintah atasannya. “siap Pak!”,jawabnya tiba-tiba. dimana dia bisa temukan Koperi-koperi itu? sedangkan keberadaan Koperi saja masih misteri.

Dodo menyusuri rumah baru Pak Tona. ia sampai di loteng lantai tiga. Ia tak percaya dengan yang dilihatnya. tiga buah koper besar dan usang berjajar diselimuti debu. koper Koperi!,pikirnya. dibukanya koper itu dan ternyata benar. sayang sekali tiga koper besar itu kosong. pasti Koperi-koperi itu sedang pergi. Dodo menyusun rencana. dia akan sembunyi di salah satu sudut loteng itu menunggu para Koperi itu datang lalu menangkapnya tiba-tiba.

**

ayah dan ibu sudah temukan nenek. nenek tersesat di hutan sepulang dari pasar. mereka lalu segera pulang khawatir trunki yang ditinggal sendirian.

ditengah perjalanan mereka bertemu dengan beberapa Koperi lain yang mengabarkan rumah Pak Abu sudah dijual. yang membeli adalah seorang pengusaha sirkus yang sedang mencari Koperi-koperi baru untuk pertunjukannya. Koperi itu menyuruh ayah,ibu dan nenek untuk segera mengungsi jika tak ingin cepat mati.

ayah,ibu dan nenek bergegas pulang. mereka sangat mengawatirkan trunki. bagaimana kalau trunki tertangkap? mungkin dia akan disekap supaya mau ikut pertunjukan. jika tidak mau pastilah akan disiksa. ibu dan nenek berkali-kal menangis di jalan tanpa sadar.

sampai di rumah lama Pak Abu mereka bertiga menyusup ke lantai tiga. berhasil karena rumah itu sepi. sesampainya di loteng,Ibu langsung membuka koper trunki dan betapa kagetnya ketika tak mendapati trunki ada di dalam. ibu,nenek dan ayah saling berpelukan menangis bersama.

“anak nakal! sudah diingatkan supaya jangan keluar sembarangan…”,kata nenek lemah.

“salahku,seharusnya ada di sini bersamanya…”,sesal ibu.

“aku yang seharusnya tidak tersesat!”,nenek tak mau kalah.

mendengar ada suara tangisan,Dodo terbangun dari tidurnya di balik tumpukan buku bekas. dilihatnya ketiga Koperi yang sedang menangis. cepat-cepat diraihnya tali lalu membuat simpul besar yang cukup untuk mengikat mereka bertiga. ia menyergapnya dari belakang. sayang sekali hanya dua yang berhasil ditangkap. sadangkan yang satu… kemana perginya koperi yang satu itu?

tanpa disadari,ayah sudah berdiri di belakang Dodo. Lalu menyergap Dodo hingga dia tak bisa bergerak lagi.

“katakan dimana Trunki!” teriak ayah.

“ti…tii dakk taaau! sudah mati mungkin…tak ada koperi yang selamat dari rumah ini… sekarang lepaskan aku!”,kata Dodo.

demi keselamatan bersama,ayah,ibu dan nenek memutuskan untuk pergi dari rumah lama Pak Abu. sedangkan Dodo supaya tak bisa melacak keberadaan mereka,dimasukkan ke dalam koper trunki lalu menguncinya dari luar.

ayah,ibu dan nenek selamat. mereka pindah ke tempat baru. tempat yang yang lebih aman dari rumah lama Pak Abu.

ohh lalu trunki?? bagaimana dengan trunki?

setelah keluar dari rumah,trunki tersesat di jalan dan tak bisa pulang. sebagai koperi yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur,trunki mencari koper baru dan mendapati sebuah koper besar persegi. ia lalu masuk dan meringuk di dalamnya. tanpa ia tahu,koper itu dibawa menuju kapal dan berlayar entah kemana. trunki menyesal. seandainya saja dia mematuhi kata ayah,ibu dan neneknya waktu itu… seandainya dia berani bertanya alasan dia tidak boleh keluar rumah pasti akan dipatuhinya aturan itu dengan senang hati… dan seandainya saja dia tidak keluar dari rumah pagi itu…

koper itu terombang-ambing di atas laut dibawa ombak menuju takdir baru yang tak seorangpun tahu. esok pagi pasti para penumpang kapal dikejutkan oleh isi dalam koper ini,pikir trunki. mereka akan berteriak “TOLONG!ADA MANUSIA DI DALAM KOPER!!” atau jika trunki tidur terlalu nyenyak mereka pasti mengira ia sudah mati,akan berteriak: “TOLONG!ADA MAYAT DALAM KOPER!!”

LIKUIDITAS CINTA

Juli 20, 2008

by:racH

bagiku kamu adalah aset
aktiva yang tiada ternilai
seperti reksadana yang beri banyak bunga
mengalir terus dalam pundi-pundi cinta
akan kugunakan jika butuh banyak dana

oh cintaku,belahan hatiku
kau adalah investasiku
mendapatkanmu adalah pengorbanan panjang
harus kurela meng-kredit seluruh sisa kas yang kumiliki
aku berharap takkan pernah rugi

akupun demikian,
usah kau risau sayangku
semua sudah kuperhitungkan
amortisasimu, nilai ekonomismu kutaksir hanya sekitar duapuluh tahun
sisanya,kamu adalah beban
yang harus kutanggung dan kurawat keberadaannya
berterimakasihlah padaku

kau pikir hanya diriku yang alami amortisasi?
kaupun alami depresiasi
ketika kulit mulai keriput,
wajah mulai kendur,
mata tak lagi melihat jelas,
telinga tak lagi mendengar jeli
aku bisa cari penggantinya, jika kumau…

sedangkal itukah cinta kita?
masih dapatkah ia diperhitungkan secara likuiditas?

semua tiada pernah kita mengerti,
tak pernah kita tahu apa yang terjadi esok nanti
cinta manusia hanya seujung jari,tidak abadi
bisa datang dan pergi sesuka hati
semua fana,
kita juga…

atau ketika semua terjadi diluar prediksi
dimana akal sehat tak lagi pegang kendali

ketika dunia tak lagi butuh uang
atau ceteris paribus tak lagi berlaku tetap
tak ada lagi yang bisa diperhitungkan
laba dan rugi sudah tak lagi punya arti
gantungkan saja cinta kita padaNya,,
mungkin dia bisa jadi penengah kita

kau benar,
mari kita lakukan rekonsiliasi pada neraca;
jika kau tulis sisi debit,aku kan mengisi sisi kredit
jika kau tulis sisi kredit,aku kan mengisi sisi debit
bukankah hidup juga demikian?
hidup harus seimbang bukan?

by:

racH

rumput liar kecil menatap langit mohon keadilan
diadukannya pada tuhan tentang nasibnya yang malang
“Tuhan,kenapa kau jadikan aku jadi rumput liar? ditempatkan di tempat paling rendah di muka bumi,diinjak- injak setiap hari,diludahi, dicabuti, tidakkah kau kasihan padaku?”

tuhan menjawab dalam diam
angin berhembus riang
hingga sang ayah datang
tersenyum memandang
dan dia berkisah
tentang perjalanan hidupnya yang susah
selalu dilanda gelisah

suatu hari waktu ayah masih muda ayah juga bertanya serupa tentang nasib rumput liar yang tiada guna
begini nak, dulu ayah lahir di hutan ditengah ribuan hewan
keluarga kita banyak sekali dan kita hidup berdampinga
kami hidup saling menolong,saling membantu
bagi kami hidup itu satu
pagi hari ketika matahari menampakkan sinarnya,hari itu kehidupan dimulai
pak rusa datang bersama keluarganya ke tempat kami
ibu beruang juga tak pernah absen dengan anak-anaknya yang berlari kesana kemari
pak kuda,ibu kuda,anak kuda semua datang dengan ceria
keluarga gajah tiba dari kejauhan,besar- besar
munki si monyet hanya memandang dari atas pohon mengikik tanpa henti
angin berhembus ringan membelai kami
sungguh hari yang damai…

pemandangan selanjutnya adalah mereka semua sarapan bersama
dan kau tahu nak apa menu pagi itu?
sekelompok rumput liar! rumput liar! sungguh menyedihkan!
mereka yang semula terlihat ramah,manis dan baik tiba-tiba menarik kami,mencabuti kami,menelan kami!
pamanku dan bibi-bibiku lebih dulu dimangsa para rusa
nenekku,dia tersangkut di gigi kuda
saudara-saudaraku juga tak ketinggalan
lebih ganas dicabut para gajah tanpa ampun
untung saja aku terselamatkan oleh kedatangan para macan
citah-citah itu berlari dengan gesit,secepat kilat menangkap para herbivora yang tak waspada
HAP!! tertangkap!
pak rusa tersungkur berlumur darah,tergolek tak berdaya

begitu seterusnya setiap hari
tapi yang aku herankan keluargaku yang masih tersisisa… samasekali tak kulihat takut di wajah mereka
ibuku masih sempat berdendang,
ayahku masih sempat berfotosintesa meski tahu nyawanya bisa hilang kapan saja,
dan adik-adikku juga masih bisa tertawa
akhirnya aku bertanya pada ayahku, bagaimana bisa?
ayahku: seperti diriku memandangmu saat ini nak,beliau hanya tersenyum
ditatapnya langit biru dan berkata,
“mungkin kita memang kecil,tak berdaya dan hina tapi bukan berarti kita tak punya arti”
aku masih menatapnya tak mengerti
“semua yang diciptakan tuhan itu tidak ada yang sia-sia,nak”
aku meminta penjelasan tapi dia hanya diam
matanya berbinar menatapku
“suatu saat kau akan tahu kalau kau sudah mengalaminya. ..”

rumput liar kecil menunggu kelanjutan kisah sang ayah
sang ayah menghela nafas
ditatapnya rumput liar kecil dengan mata sedikit berkaca
dinyanyikannya lagu sederhana

semburat di atas mega
indah berwarna jingga
nyawa kita siapa yang punya?
Sibuk bertanya,lalai harganya


kau tahu nak? hingga suatu hari kejadian itu datang
musibah itu terjadi
kobaran api melahap hampir separuh hutan
sabana tempat kami tumbuh juga kena
tidak semua,tapi parah rupanya
ayahku,ibuku dan adik2ku tak terselamatkan lagi
yang tertinggal hanya aku dan rumput2 liar kecil yang masih terlalu mungil
keadaan kami tak kalah mengenaskan
kuning,layu dan hampir mati
beruntung hujan datang mengguyur sore itu
beberapa dari kami yang selamat dipindahkan oleh beberapa manusia ke tempat yang aman
kata peneliti itu kami termasuk dalam golongan spesies langka
lalu dipindahkan ke suaka margasatwa bersama penghuni hutan lainnya,
yang masih selamat tentu saja…


kami mulai hidup baru
lupakan yang telah lalu
saatnya untuk maju
demi koloni,demi populasi kami
kami berkembangbiak makin lama makin banyak
hingga seperti sekarang ini

di suaka hidup kami tak jauh berbeda
harus rela jadi menu sarapan para herbivora
bedanya adalah di sini kami merasa senasib
hewan-hewan yang selamat dari kebakaran hutan itu sama lemahnya seperti kami
begitu layu
mereka butuh makan,saat itu kamipun tersadar
makanan mereka adalah kami
tanpa kami mereka tak bisa hidup lebih lama lagi,mungkin akan mati sebentar lagi
oh anakku,betapa indahnya ketika kutemukan makna hidup ini
aku teringat nasihat ayahku tentang arti selembar rumput liar
betapa yang tuhan cipta tak pernah ada yang sia-sia
begitu juga kita…
meski kecil,tak pernah dipandang,selalu diabaikan keberadaannya, diinjak-injak setiap hari,diludahi, dicabuti. ..
jangan berkecil hati,anakku
percayalah kita punya arti
tanpa kita dunia akan kehilangan keseimbangannya
teruslah memberi tanpa mengharap kembali

rumput liar kecil menatap ayahnya
sedih hatinya menguap sudah
sekarang ia mengerti
apa arti hidup ini
pertanyaan itu tak terucap lagi,tak akan!
Dalam hati, rumput liar kecil bersujud penuh syukur memohon ampun


ayahnya mengguncang- guncangkan bahu si rumput liar kecil
pernah dengar manusia berkata, “tanyakan pada rumput yang bergoyang?”
itu kita!
serempak mereka berdua tertawa
hahaha!

HOMMO HOMINI LUPUS

Juli 20, 2008

Kau adalah makhluk paling aneh yang pernah kujumpai.ketika manusia mempertanyakan tentang keberadaan mereka,kau tak membutuhkannya. keberadaanmu adalah nyata. realita. tak perlu pengakuan,kau sudah diakui tanpa harus meminta. karena kau ada. tak perlu berceloteh panjang lebar kau langsung buktikan bahwa hidup bukan hanya omong kosong tapi untuk dijalani.

kau ada di sana tenang-tenang saja. jalani hidup dengan sederhana berbaur bersama hijaunya tumbuhan dan birunmya langit. naik gunung,turun gunung,arungi sungai hanya untuk hijaukan semuanya. kau mau berepot-repot memanggang diri di bawah sinar matahari untuk pertahankan kehidupan. membuatnya tetap seimbang,selaras dan sejalan.

kau… ah tak habis-habisnya bicara tentangmu. tak pernah terhapus dari ingatanmu kejadian kala itu. ketika keluargamu,anak-anakmu dan istrimu tersapu air bah yang menenggelamkan hampir separuh desamu. kau masih bertahan. berdiri tegak memandang semua yang hilang. mereka telah pergi sekarang dan kejadian itu sudah lama berlalu. terkadang aku menangkap raut itu di wajahmu. sedikit tergambar penyesalan. rasa bersalah karena tak sanggup selamatkan mereka,bahkan untuk sekedar melindunginya pun kau tak mampu. apa artinya dirimu sebagai laki-laki? sebagai bapak serta suami? kau tak mampu menopang hidupmu sendiri!

kau hancur. kau hampir tersungkur. hilang rasa syukur. nyaris jadi kufur. baru kau sadari mereka lebih berharga dari sekedar nyawa yang kini masih menempel di tubuhmu,bersama detak jantungmu. sedangkan nyawamu sendiri? apa artinya tanpa mereka?

selanjutnya kau kembali bangun. bangkit lagi tanpa peduli apa yang terjadi. menjadi sesosok baru yang begitu berbeda dari hidupmu dulu. apa yang membuatmu berubah? pertanyaan itu selalu menggelitik rasa ingin tahuku sejak kau ceritakan kejadian tragis itu.

pagi itu pertamakali aku melihatmu. ketika matahari mulai beranjak naik kau masih di sana. di sawah mencangkul tanah yang akan kau tanami kacang tanah. burung-burung berkicau merdu. aku bertanya padamu dimana jalan menuju puncak gunung. kau menoleh dan menjawab kalau aku tersesat. jalan ke puncak masih terlalu jauh. kau menawarkan rumahmu untuk beristirahat. sepertinya kau lebih tahu kalau aku dan kedua temanku ini sudah tak sanggup lagi membawa carrier yang terasa semakin bertambah berat. kalau kami sudah tersesat selama dua hari dua malam dan butuh makanan.

di gubug kecil itu kau tinggal. tak jauh dari tempat kau berladang tadi. kecil. dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan papan yang sudah reyot. tak jauh beda dengan gubugmu yang ada di tengah sawah itu. lantainya tanah sedikit berpasir. tampak beberapa bulatan kecil-kecil di sudut-sudutnya. kau tinggal bersama makhluk kecil bernama undur-undur.[1]

kau bukakakan pintu gubugmu yang kecil dan miring itu. tak tampak perabotan yang mencolok disana. cuma ada dua bilik di dalamnya. bilik pertama adalah tempat pertama kami menginjakkan kaki. langsung disambut oleh ruang tamu kecil. oh bahkan aku ragu mengatakan ini ruang tamu. hanya ada dua kursi tinggi beraki empat yang tinggi di situ,sebuah meja dan sebuah amben datar tanpa kasur tanpa bantal yang juga tak kalah reyotnya. ini ruang tidurmu! setelah ruang ini,ada satu bilik lagi di belakangnya yang dihubungkan oleh sebuah pintu tanpa daun. sedikit tercium bau asap sisa pembakaran. itu dapurmu! sedangkan kamar mandi berdiri terpisah dari rumah,tepat di belakang dapur. tak bisa kubayangkan betapa mencekam jika kau sangat ingin melepas hajat di tengah malam. selebihnya sangat simpel. minimalis. bahkan arsitek-arsitek dunia itu tak sanggup menirunya(tidak akan pernah lebih tepatnya).

teman hidupmu selain undur-undur adalah sekawanan ternak. lima ekor kambing dan selusin bebek yang dikandangkan di samping rumah persis di sebelah tempatmu tidur. mungkin itu satu-satunya cara supaya kau merasa tidak sendiri. setiap malam mereka akan mengembik dan berisik ciptakan melodi yang akan mengganggu tidurmu. juga pertanda ketika ada manusia tak dikenal memasuki wilayahmu.

kau hidup sendiri dalam keterbatasan tapi tak pernah sekalipun merasa kekurangan atau kesepian. selepas adzan ashar berkumandang,kau pulang bersama ternak-ternak kembali ke gubug kemudian membersihkan diri lalu shalat ashar. begitu khusyuk kulihat. betapa kau telah lepaskan semuanya. bersujud,mengadu dan pertahankan sedikit syukur yang tertinggal. selanjutnya kau akan mengisi waktu dengan kegiatan lain. membersihkan rumah atau kandang ternakmu. jika sempat kau juga memasak. memasak untuk makan malammu sendiri. tapi malam itu kau memasak untuk kami bertiga. empat porsi! setara dengan makanmu selama dua hari. kami jadi tidak enak hati. sebagai gantinya kami habiskan yang kau beri tanpa sisa. hmm,tak tega mengatakannya padamu kalau kami begitu kelaparan.

usai maghrib kau ambil kopiahmu,memakai stelan baju koko terbaikmu bersiap keluar rumah. “ngajar anak-anak ngaji mas… di masjid dekat kali. mau ikut?”. sontak aku menggeleng. tersesat dua hari cukup menguras energi buatku. “terimakasih pak,lain kali saja”. kau mengangguk mengerti lalu pergi berjalan memunggungiku sambil membawa senter. berjalan kaki larut malam seperti ini? apa yang kau cari pak tua? usiamu sudah mulai renta (sekitar 65 kurasa),jalanmu sudah tak seimbang dulu,matamu dan pendengaranmu juga tak kalah dimakan waktu. masih mau saja kau merepotkan diri sendiri untuk orang lain yang tak pernah pedulikanmu samasekali!

pukul sepuluh malam kau baru pulang. tak tampak lelah di dirimu. senyum itu. membuyarkan semua kerut di wajahmu. kau jadi berseri,terlihat muda. aku semakin tak mengerti,pak tua. apa yang bisa membuatmu bertahan sampai seperti ini?

kau tahu aku tidak bisa tidur malam itu. kau mengajakku mengobrol. tentang kejadian 25 tahun silam. tentang musibah dan gelisah yang melandamu tak berkesudahan. tragis. dari sekian banyak penduduk desa hanya sepuluh orang yang selamat termasuk dirimu. sedangkan sembilan orang yang masih hidup itu entah bagaimana kabarnya. lima diantaranya dijemput kerabat jauh mereka dan empat yang lain lebih tragis nasibnya. tak kuat hadapi hidup,dua dari empat orang itu jatuh sakit dan mati sedangkan dua lainnya harus jadi penghuni RSJ entah sampai kapan. hanya kau yang selamat dan masih waras sampai sekarang.

tak pernah berhenti bersyukur. itu yang kau bilang padaku. hidup apa adanya,berbuat terbaik yang kau bisa,berusaha dan menyerahkan semua hasilnya pada sang pencipta. memang sulit menurutku. tak ada yang bisa kau gantungkan hidup kecuali Dia.

selanjutnya hidupmu adalah pengabdian. penebus dosa atas kesalahan-kesalahan masa lalu. tentu kau takkan pernah lupa bagaimana dirimu dulu turut berpartisipasi dalam penggundulan hutan di kaki gunung setahun sebelum banjir melanda. sekarang kau mulai menanaminya lagi. jerih payahmu sedikit demi sedikit membuahkan hasil. perlahan kau selimuti bukit-bukit itu dengan warna hijau. membuat sungai-sungai itu kembali mengalir jernih. puluhan jenis burung dan hewan kembali ke habitatnya. kehidupan baru telah lahir.

tak hanya dirimu yang lahir menjadi sosok baru tetapi semua yang ada di sekitarmu. penduduk baru mulai berdatangan lahirkan generasi penerus yang kelak akan menggantikanmu. sekali lagi kau juga merasa bertanggungjawab. tanpa mengenal lelah setiap hari kau mengajar mereka mengaji. berikan pegangan hidup yang kau harap dapat selamatkan mereka suatu hari nanti.

hingga suatu hari mereka tiba. orang-orang kota itu…mereka datang membeli kampungmu,membeli sawah dan ladangmu. dengan ganti rugi yang tidak sedikit. semua warga desa setuju kecuali dirimu. bagaimana tidak jika kau tahu mereka hanya akan mengeruk bukit-bukit itu menjadikannya kota baru tanpa peduli alam yang sudah sekian lama kau perbaiki? yang kau bangun dengan mengorbankan diri di bawah sinar matahari selama berhari-hari? mereka tak peduli! tak peduli betapa susahnya dirimu menghapus rasa bersalah yang menghantui serta bayangan anak-anak dan istrimu yang selalu terngiang hingga sekarang. sekali lagi mereka tak peduli!

persis sekali dengan kejadian 25 tahun silam. hommo homini lupus. mereka menjajah. terlihat baik meski sejatinya buruk. ulurkan tangan seakan berjabat tangan,membantu kalian padahal sebenarnya menampar. merendahkan bangsa kalian hanya dengan beberapa lembar uang. selanjutnya kalian akan bangga bekerja sebagai kuli untuk mereka. pada akhirnya mereka akan pergi begitu saja meninggalkan berbagai macam kerusakan di desa kalian dan lagi-lagi kalianlah yang menanggung akibatnya.

manusia adalah serigala bagi manusia lainnya,ujarmu. aku tidak begitu paham dengan yang kau maksud. mungkin dulu kau pernah merasa jadi serigala. memakan nyawa istri dan anak-anakmu dengan tanganmu sendiri secara tidak langsung. kini kau tak ingin semua terulang lagi. cukup sudah kesalahan menyengsarakan nyawa-nyawa yang tak berdosa itu.

kau berjuang dan terus berjuang…

sudah lama aku tak mendengar kabarmu. berita terakhir yang sampai ke telingaku adalah kau mampu meyakinkan penduduk desa untuk menolak proyek properti itu. kau buat mereka marah dan kalang kabut. aku senang sekali mendengarnya. sedikit berdoa supaya perusahaan itu cepat bangkrut. entah kenapa aku menjadi begitu benci dengan tipikal para pengeruk untung yang tidak bertanggungjawab. cerita-ceritamu telah membuatku berkesimpulan dibalik sesuatu yang menyenangkan kadang tersimpan sesuatu yang tidak menyenangkan.

dua tahun sejak pertemuan kita yang terakhir itu,kuputuskan untuk kembali ke desamu. aku ingin berburu foto sekaligus menjengukmu. selain itu aku juga ingin tahu bagaimana wajah-wajah orang kota biadab itu. yang mau menang sendiri dan mengeruk banyak untung. andai aku punya cukup kekuatan…

betapa kagetnya aku pagi itu ketika kutemukan kau terkapar di atas ambenmu tak bergerak juga tak bernafas. kata dokter kau terkena serangan jantung. kau meninggal. pak tua… aku menggoyang-goyangkan tubuhmu berharap kau kembali sadar. terhampar berserakan kertas di samping tubuhmu.

dokumen perjanjian kontrak yang batal. akhirnya setelah dua tahun kau perjuangkan semua…“PT NewHill Persada” tertulis dengan huruf besar dan jelas. mataku terbelalak menatapnya. aku tertegun. itu adalah perusahaan yang memberiku beasiswa! membiayai hidupku hingga tamat kuliah.

oh pak tua… aku mengerti maksud ucapanmu…


[1]hewan kecil yang jalannya mundur. hidup di tanah dan mudah dijumpai pada tanah berstruktur sedikit berpasir

PORTATO

Juli 20, 2008

selapis gelap menyapa dengan mendung sebagai sahabatnya
payung memayungi lembayung hati seakan kidung dinyanyikan tiada henti
sebuah partitur dalam dekapan piano bertulis legato dimainkan dengan staccato penuh ragu
mengalir… mengalirlah…
bernyanyi ringan
andante…
tiada terburu atau ragu namun penuh haru
jangan melangkah terlalu cepat tunggulah sebentar!
berjalan tanpa beban
legato… legato… langkahnya tetap staccato
kalau begitu lompat! melompatlah! biar nadanya terdengar jelas
terlalu keras
apa yang kau mainkan??!

BEKU

Juli 20, 2008

terpaku waktu
terpasung memori
tak bisa pergi
ingin lari
lalu sembunyi

beku
dingin
cepat
biru
berlalu
menggigil
hipotermia
hilang akal
tak sadar

kau memanggil
bayangan;
melintas,sepintas
terdiam lagi
kabut
mimpi
sunyi

melompat jauh
terlalu jauh
bertanya;
dimana?
sekali lagi;
dimana??
menggema;
dimana???

jurang:
gelap
senyap
tak berdasar
bertertiak: aaaaaaaaaaaahhhhhhhh!!!!!!!!!!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.