HOMMO HOMINI LUPUS

Juli 20, 2008

Kau adalah makhluk paling aneh yang pernah kujumpai.ketika manusia mempertanyakan tentang keberadaan mereka,kau tak membutuhkannya. keberadaanmu adalah nyata. realita. tak perlu pengakuan,kau sudah diakui tanpa harus meminta. karena kau ada. tak perlu berceloteh panjang lebar kau langsung buktikan bahwa hidup bukan hanya omong kosong tapi untuk dijalani.

kau ada di sana tenang-tenang saja. jalani hidup dengan sederhana berbaur bersama hijaunya tumbuhan dan birunmya langit. naik gunung,turun gunung,arungi sungai hanya untuk hijaukan semuanya. kau mau berepot-repot memanggang diri di bawah sinar matahari untuk pertahankan kehidupan. membuatnya tetap seimbang,selaras dan sejalan.

kau… ah tak habis-habisnya bicara tentangmu. tak pernah terhapus dari ingatanmu kejadian kala itu. ketika keluargamu,anak-anakmu dan istrimu tersapu air bah yang menenggelamkan hampir separuh desamu. kau masih bertahan. berdiri tegak memandang semua yang hilang. mereka telah pergi sekarang dan kejadian itu sudah lama berlalu. terkadang aku menangkap raut itu di wajahmu. sedikit tergambar penyesalan. rasa bersalah karena tak sanggup selamatkan mereka,bahkan untuk sekedar melindunginya pun kau tak mampu. apa artinya dirimu sebagai laki-laki? sebagai bapak serta suami? kau tak mampu menopang hidupmu sendiri!

kau hancur. kau hampir tersungkur. hilang rasa syukur. nyaris jadi kufur. baru kau sadari mereka lebih berharga dari sekedar nyawa yang kini masih menempel di tubuhmu,bersama detak jantungmu. sedangkan nyawamu sendiri? apa artinya tanpa mereka?

selanjutnya kau kembali bangun. bangkit lagi tanpa peduli apa yang terjadi. menjadi sesosok baru yang begitu berbeda dari hidupmu dulu. apa yang membuatmu berubah? pertanyaan itu selalu menggelitik rasa ingin tahuku sejak kau ceritakan kejadian tragis itu.

pagi itu pertamakali aku melihatmu. ketika matahari mulai beranjak naik kau masih di sana. di sawah mencangkul tanah yang akan kau tanami kacang tanah. burung-burung berkicau merdu. aku bertanya padamu dimana jalan menuju puncak gunung. kau menoleh dan menjawab kalau aku tersesat. jalan ke puncak masih terlalu jauh. kau menawarkan rumahmu untuk beristirahat. sepertinya kau lebih tahu kalau aku dan kedua temanku ini sudah tak sanggup lagi membawa carrier yang terasa semakin bertambah berat. kalau kami sudah tersesat selama dua hari dua malam dan butuh makanan.

di gubug kecil itu kau tinggal. tak jauh dari tempat kau berladang tadi. kecil. dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan papan yang sudah reyot. tak jauh beda dengan gubugmu yang ada di tengah sawah itu. lantainya tanah sedikit berpasir. tampak beberapa bulatan kecil-kecil di sudut-sudutnya. kau tinggal bersama makhluk kecil bernama undur-undur.[1]

kau bukakakan pintu gubugmu yang kecil dan miring itu. tak tampak perabotan yang mencolok disana. cuma ada dua bilik di dalamnya. bilik pertama adalah tempat pertama kami menginjakkan kaki. langsung disambut oleh ruang tamu kecil. oh bahkan aku ragu mengatakan ini ruang tamu. hanya ada dua kursi tinggi beraki empat yang tinggi di situ,sebuah meja dan sebuah amben datar tanpa kasur tanpa bantal yang juga tak kalah reyotnya. ini ruang tidurmu! setelah ruang ini,ada satu bilik lagi di belakangnya yang dihubungkan oleh sebuah pintu tanpa daun. sedikit tercium bau asap sisa pembakaran. itu dapurmu! sedangkan kamar mandi berdiri terpisah dari rumah,tepat di belakang dapur. tak bisa kubayangkan betapa mencekam jika kau sangat ingin melepas hajat di tengah malam. selebihnya sangat simpel. minimalis. bahkan arsitek-arsitek dunia itu tak sanggup menirunya(tidak akan pernah lebih tepatnya).

teman hidupmu selain undur-undur adalah sekawanan ternak. lima ekor kambing dan selusin bebek yang dikandangkan di samping rumah persis di sebelah tempatmu tidur. mungkin itu satu-satunya cara supaya kau merasa tidak sendiri. setiap malam mereka akan mengembik dan berisik ciptakan melodi yang akan mengganggu tidurmu. juga pertanda ketika ada manusia tak dikenal memasuki wilayahmu.

kau hidup sendiri dalam keterbatasan tapi tak pernah sekalipun merasa kekurangan atau kesepian. selepas adzan ashar berkumandang,kau pulang bersama ternak-ternak kembali ke gubug kemudian membersihkan diri lalu shalat ashar. begitu khusyuk kulihat. betapa kau telah lepaskan semuanya. bersujud,mengadu dan pertahankan sedikit syukur yang tertinggal. selanjutnya kau akan mengisi waktu dengan kegiatan lain. membersihkan rumah atau kandang ternakmu. jika sempat kau juga memasak. memasak untuk makan malammu sendiri. tapi malam itu kau memasak untuk kami bertiga. empat porsi! setara dengan makanmu selama dua hari. kami jadi tidak enak hati. sebagai gantinya kami habiskan yang kau beri tanpa sisa. hmm,tak tega mengatakannya padamu kalau kami begitu kelaparan.

usai maghrib kau ambil kopiahmu,memakai stelan baju koko terbaikmu bersiap keluar rumah. “ngajar anak-anak ngaji mas… di masjid dekat kali. mau ikut?”. sontak aku menggeleng. tersesat dua hari cukup menguras energi buatku. “terimakasih pak,lain kali saja”. kau mengangguk mengerti lalu pergi berjalan memunggungiku sambil membawa senter. berjalan kaki larut malam seperti ini? apa yang kau cari pak tua? usiamu sudah mulai renta (sekitar 65 kurasa),jalanmu sudah tak seimbang dulu,matamu dan pendengaranmu juga tak kalah dimakan waktu. masih mau saja kau merepotkan diri sendiri untuk orang lain yang tak pernah pedulikanmu samasekali!

pukul sepuluh malam kau baru pulang. tak tampak lelah di dirimu. senyum itu. membuyarkan semua kerut di wajahmu. kau jadi berseri,terlihat muda. aku semakin tak mengerti,pak tua. apa yang bisa membuatmu bertahan sampai seperti ini?

kau tahu aku tidak bisa tidur malam itu. kau mengajakku mengobrol. tentang kejadian 25 tahun silam. tentang musibah dan gelisah yang melandamu tak berkesudahan. tragis. dari sekian banyak penduduk desa hanya sepuluh orang yang selamat termasuk dirimu. sedangkan sembilan orang yang masih hidup itu entah bagaimana kabarnya. lima diantaranya dijemput kerabat jauh mereka dan empat yang lain lebih tragis nasibnya. tak kuat hadapi hidup,dua dari empat orang itu jatuh sakit dan mati sedangkan dua lainnya harus jadi penghuni RSJ entah sampai kapan. hanya kau yang selamat dan masih waras sampai sekarang.

tak pernah berhenti bersyukur. itu yang kau bilang padaku. hidup apa adanya,berbuat terbaik yang kau bisa,berusaha dan menyerahkan semua hasilnya pada sang pencipta. memang sulit menurutku. tak ada yang bisa kau gantungkan hidup kecuali Dia.

selanjutnya hidupmu adalah pengabdian. penebus dosa atas kesalahan-kesalahan masa lalu. tentu kau takkan pernah lupa bagaimana dirimu dulu turut berpartisipasi dalam penggundulan hutan di kaki gunung setahun sebelum banjir melanda. sekarang kau mulai menanaminya lagi. jerih payahmu sedikit demi sedikit membuahkan hasil. perlahan kau selimuti bukit-bukit itu dengan warna hijau. membuat sungai-sungai itu kembali mengalir jernih. puluhan jenis burung dan hewan kembali ke habitatnya. kehidupan baru telah lahir.

tak hanya dirimu yang lahir menjadi sosok baru tetapi semua yang ada di sekitarmu. penduduk baru mulai berdatangan lahirkan generasi penerus yang kelak akan menggantikanmu. sekali lagi kau juga merasa bertanggungjawab. tanpa mengenal lelah setiap hari kau mengajar mereka mengaji. berikan pegangan hidup yang kau harap dapat selamatkan mereka suatu hari nanti.

hingga suatu hari mereka tiba. orang-orang kota itu…mereka datang membeli kampungmu,membeli sawah dan ladangmu. dengan ganti rugi yang tidak sedikit. semua warga desa setuju kecuali dirimu. bagaimana tidak jika kau tahu mereka hanya akan mengeruk bukit-bukit itu menjadikannya kota baru tanpa peduli alam yang sudah sekian lama kau perbaiki? yang kau bangun dengan mengorbankan diri di bawah sinar matahari selama berhari-hari? mereka tak peduli! tak peduli betapa susahnya dirimu menghapus rasa bersalah yang menghantui serta bayangan anak-anak dan istrimu yang selalu terngiang hingga sekarang. sekali lagi mereka tak peduli!

persis sekali dengan kejadian 25 tahun silam. hommo homini lupus. mereka menjajah. terlihat baik meski sejatinya buruk. ulurkan tangan seakan berjabat tangan,membantu kalian padahal sebenarnya menampar. merendahkan bangsa kalian hanya dengan beberapa lembar uang. selanjutnya kalian akan bangga bekerja sebagai kuli untuk mereka. pada akhirnya mereka akan pergi begitu saja meninggalkan berbagai macam kerusakan di desa kalian dan lagi-lagi kalianlah yang menanggung akibatnya.

manusia adalah serigala bagi manusia lainnya,ujarmu. aku tidak begitu paham dengan yang kau maksud. mungkin dulu kau pernah merasa jadi serigala. memakan nyawa istri dan anak-anakmu dengan tanganmu sendiri secara tidak langsung. kini kau tak ingin semua terulang lagi. cukup sudah kesalahan menyengsarakan nyawa-nyawa yang tak berdosa itu.

kau berjuang dan terus berjuang…

sudah lama aku tak mendengar kabarmu. berita terakhir yang sampai ke telingaku adalah kau mampu meyakinkan penduduk desa untuk menolak proyek properti itu. kau buat mereka marah dan kalang kabut. aku senang sekali mendengarnya. sedikit berdoa supaya perusahaan itu cepat bangkrut. entah kenapa aku menjadi begitu benci dengan tipikal para pengeruk untung yang tidak bertanggungjawab. cerita-ceritamu telah membuatku berkesimpulan dibalik sesuatu yang menyenangkan kadang tersimpan sesuatu yang tidak menyenangkan.

dua tahun sejak pertemuan kita yang terakhir itu,kuputuskan untuk kembali ke desamu. aku ingin berburu foto sekaligus menjengukmu. selain itu aku juga ingin tahu bagaimana wajah-wajah orang kota biadab itu. yang mau menang sendiri dan mengeruk banyak untung. andai aku punya cukup kekuatan…

betapa kagetnya aku pagi itu ketika kutemukan kau terkapar di atas ambenmu tak bergerak juga tak bernafas. kata dokter kau terkena serangan jantung. kau meninggal. pak tua… aku menggoyang-goyangkan tubuhmu berharap kau kembali sadar. terhampar berserakan kertas di samping tubuhmu.

dokumen perjanjian kontrak yang batal. akhirnya setelah dua tahun kau perjuangkan semua…“PT NewHill Persada” tertulis dengan huruf besar dan jelas. mataku terbelalak menatapnya. aku tertegun. itu adalah perusahaan yang memberiku beasiswa! membiayai hidupku hingga tamat kuliah.

oh pak tua… aku mengerti maksud ucapanmu…


[1]hewan kecil yang jalannya mundur. hidup di tanah dan mudah dijumpai pada tanah berstruktur sedikit berpasir

Tinggalkan Balasan