EKSISTENSI YANG HAMPIR MATI

Januari 26, 2009

eksistensi yang hampir mati

sudah hampir jam sepuluh pagi ketika kusadari lamunanku berhenti di sini. di sebuah tempat yang kuinjakkan kaki saat ini. mengenang sebuah eksistensi yang hampir mati…

punah. punahlah sudah yang tewas. yang tercerai berai dari populasi dan tidak bisa melanjutkan populasi. keberadaannya pergi entah kemana.

eksistensi itu cuma mimpi di siang hari yang menuntut untuk segera terjadi. dibalik semua omongannya, eksis dan tensi sungguh pemberani. eksis lahir ke bumi dari dari ibu seorang peri pujaan hati. ibunya lalu pergi entah kemana meninggalkannya sendiri. sedangkan tensi ikut kakek neneknya sedari kecil. lalu mereka bertemu ketika sedang menjaring ikan pari di laut bali. merasa senasib,mereka lalu bersahabat. sahabat yang menjadi saudara. saudara yang menjadi keluarga.

dimana eksis? dimana tensi? mereka telah menyatu ciptakan eksistensi. lalu dimana eksistensi?

“keberadaanku perlu diakui”,kata Eksis suatu hari.
“bah! bagaimana eksistensi bisa diakui? kita ini cuma anak terbuang,Sis… yang rindukan perhatian dan kasih sayang”
“hahaha. benar juga! bahkan Ibu kita sendiri tak mau menerima!”,Eksis tertawa lebar.
“menyedihkan!”,gumam Eksis lagi.
“oke kalau begitu mari kita lakukan..”,kata Tensi
“lakukan apa?”
“kita merger”
“bah! macam bank saja kau ini. biar nggak dilikuidasi? hahahaha!”
“hei jangan banyak protes kamu,Sis! lihat saja… akan kita tunjukkan pada dunia hingga mereka yang membuang kita menyesal untuk selamanya”
“sakit jiwa kau Ten!”
“demi keberadaan kita,Sis… yang kuat yang diakui. yang diakui itu yang dipandang. yang dipandang itu dapat penghormatan”
“hormat benderaaa GRAK! hahaha”,Eksis melucu sambil menirukan gerakan pasukan pengibar bendera.
“terus bagaimana?”,lanjut Eksis lagi.
“kita bertindak,Ten. buktikan kalau kita ada! kita nyata!”
“caranya?”
“manfaatin peluang dooong… kayak nggak pernah diajar melaut saja sih kamu!”
“okeoke mari kita susun rencana… mulai peluang dari mana?”

dan semua pun berlanjut hingga eksis merger dengan tensi. menciptakan sebuah eksistensi. keberadaan untuk mereka sendiri. di tengah pulau sepi itu. sambil menunggu nelayan pulang-pergi datang silih berganti. eksistensi yang hampir mati kini kembali.

***

dalam sebuah kenangan,katanya. mari kita mengenang apa yang pantas dikenang. atau yang seharusnya dikenang? memori sebuah perjalanan. dasar eksistensi yang hampir mati! nyawamu taruhannya. hidupmu hampir punah. sadarlah! jika tak cepat-cepat kau benahi maka….

“maka apa?”
“makanan kambing!”
“dilaut mana ada kambing Ten! sehelai rumput pun tak mau tumbuh di sini!”
“nah itu dia… kita hidup di negeri macam apa sih?”
“juga tempat macam apa! apa sih salah kita sampai terasing seperti ini? macam kapal terdampar saja”
“salah laut tuh! salahnya laut punya ombak”
“lhaah kalau nggak ada ombak mana ada ikan yang mau datang terbawa arus?”
“bodo ah! yang jelas aku tidak bisa lihat rumput dan kambing di sini”
“aku nggak ngerti Ten… apa yang kau omongkan…”
“intinya: kita harus berhasil. titik! berhasil buktikan kalau kita ini ada”
“lalu apa masalahnya?”
“masalahnya adalah tempat macam apa pulau ini? tidak ada pemimpin sejati”
“jangan kau katakan tentang pemimpin pulau. MUAK aku mendengarnya! semua nggak ada yang bener”
“betul!”
“tahun depan aku mau golput sajalah”
“aku ikut yah. hehehe”

sore itu eksistensi mengukuhkan diri. tentang keberadaan mereka di pulau ini. menyelamatkan kapal nelayan yang hampir karam karena serangan hiu yang ganas sekali. cuaca dan badai yang buruk membuat tak ada seorangpun yang berani terjun melalui ombak-ombak ganas itu.
“astaghfirullah…”,seorang Mak tua mengelus dada menyaksikan pemandangan itu. memeluk anak perempuannya yang lebih muda menenangkannya. yang berada di kapal itu tak lain tak bukan adalah menantunya.
“innalillahi wa inna illaihi rojiun…”,kata seorang laki-laki separuh baya yang berdiri dibelakang Mak pasrah.
“HEI jangan dilihat aja dong. ayo dibantu!”,Tensi setengah berteriak
“jangan sok tahu kamu anak muda! tahu apa kamu tentang ombak dan badai di laut? minum air garam saja nggak pernah… berani-beraninya mengatur orangtua!”
“bah! cuma orang bodoh saja yang mau minum garam”,timpal Eksis kesal.

eksis dan tensi terjun ke laut. orang-orang itu memang sudah tak menginginkannya sejak dulu. jadi biarlah jika mereka mati kali ini lagipula hal itu tak akan jadi persoalan besar. yang penting nyawa nelayan yang di tengah lautan itu bisa tertolong atau minimal membawa jenazahnya kembali ke darat supaya bisa dimakamkan.

eksistensi berhasil membuktikan diri. dengan membawa pulang jenazah Mas Yanto. mereka pahlawan yang sebelumnya hanyalah mimpi sebuah eksistensi.. eksistensi yang hampir mati kini sudah diakui. mungkin nyawa perlu disertakan dan niat perlu diluruskan serta diikhlaskan baru eksistensi diakui di pulau ini….. bersamaan dengan tatapan-tatapan keji itu dan bisikan-bisikan benci harus kuat untuk dilalui. sekali lagi eksistensi yang hampir mati kini kembali. menahan diri untuk tidak membenci, eksistensi berbesar hati. merger ini sukses! besok mereka akan jadi bank yang selamat dari likuidasi.

26/1/09

Tinggalkan Balasan