SEGENGGAM KEPIK EMAS YANG KAMI LEPAS KE ANGKASA

by: racH

segenggam kepik emas yang kami lepaskan ke angkasa itu kini pergi entah kemana. apakah ia masih hidup ataukah sudah mati,kami tidak tahu. yang jelas mungkin nasibnya tak semujur kami yang masih bernyawa hingga hari ini. terlalu sadiskah kami menyiksa makhluk sekecil dia? entahlah,masih terlalu kecil usia kami untuk mengerti tentang hak asasi.

duabelas tahun yang lalu, usia sekitar enam atau tujuh,tempat itu adalah surga bermain untuk anak-anak. sebuah lapangan luas yang ditumbuhi rumput liar dengan semak belukar di sepanjang sisinya. ketika matahari turun menuju peraduannya, saat sinarnya jadi seoranye kuning telur mata sapi dan saat anak-anak pulang dari sekolah untuk bermain-main, saat itulah lapangan menjadi ramai. anak laki-laki biasanya memilih di tengah lapangan bermain bola. sisanya bermain layang-layang di pinggirnya. sedangkan anak-anak perempuan lebih senang menggerombol di pinggir menggendong boneka atau bermain pasaran. ada juga yang bermain ular-ularan,engklek atau ikut bermain bersama anak laki-laki yang lain. suasana sore di lapangan itu sungguh sebuah pemandangan yang akan membuat tersenyum siapapun yang melihat. euforia yang membumbung tinggi ke udara,teriakan- teriakan penuh semangat,umpatan kecewa dari lawan,tangis yang sesekali terdengar serta nyanyian-nyanyian permainan yang didendangkan ceria.

seandainya dulu kami bisa melukis selihai pelukis terkenal atau memotret sebaik seorang fotografer  profesional, mungkin akan kami abadikan suasana sore itu. akan kami bingkai dalam sebuah frame kayu besar lalu dipajang di dinding ruang utama rumah masing-masing. ketika cucu-cucu kami  datang nanti dan bertanya gembar apakah itu,maka dengan senyum mengembang akan kami ceritakan tentang masa kecil yang indah untuk dikenang. masa dimana kami suka sekali menangkap kepik emas lalu menerbangkannya ke angkasa.

ya,dulu kami senang sekali menangkap kepik. dibanding bermain layang-layang, sepakbola atau dengan anak perempuan yang lain,kami lebih senang menekuri semak belukar di sepanjang sisi lapangan mencari serangga lucu itu. kepik biasanya hinggap di dahan-dahan belukar yang berbentuk hati yang seringkali untuk makan sapi. tapi di daerah ini sedikit sekali yang memelihara sapi,jadi tanaman itu tumbuh subur dimana-mana hingga kepik-kepik itu datang. para kepik membuat dahan-dahan itu jadi berlubang kecil-kecil. seringkali mereka hinggap diatasnya atau bersembunyi dibaliknya. warnanya berwarna-warni. ada yang berwarna merah dengan totol hitam di bagian sayapnya,ada yang kuning polos,ada yang perak namun lebih banyak yang berwarna emas.

jika kepik yang kami tangkap sudah terkumpul banyak dan tangan kami sudah tak muat,kami akan naik ke sepeda masing-masing. berlomba mengayuh secepat-cepatnya. setelah itu sepeda yang paling depanlah yang diberi kehormatan untuk memutuskan kapan kepik itu dilontarkan ke udara. sepeda kami akan melambat lalu segenggam kepik akan lepas ke angkasa. terbang dengan indahnya.

kesenangan melepas kepik emas ke angkasa itu lama kelamaan berlanjut menjadi sebuah kebiasaan. rutin,sepulang dari sekolah kami akan langsung pulang untuk ganti baju,makan siang lalu cepat-cepat menuju lapangan untuk mencari kepik. entah bagaimana mulanya kami memilih hewan itu dijadikan hewan buruan paling favorit. mungkin karena kepik itu sangat baik hati dan tidak menyakiti saat ditangkap. dia sangat penurut,tak sesulit menangkap kupu-kupu atau capung (kami harus memasang permen karet di  atas kayu dulu  kalau ingin menangkapnya dan beli permen karet berarti mengeluarkan uang. mengeluarkan uang berarti mengurangi jatah uang jajan. sedangkan kami tak begitu suka makan permen karet) atau tak serepot menangkap kecebong (harus rela baju jadi basah. lagipula kecebong akan berubah jadi kodok jika disimpan terlalu lama dalam kolam. kodok yang melompat-lompat itu membuat orang rumah jadi jijik selanjutnya ibu-ibu kami akan marah-marah) . warnanya juga sebuah keajaiban. kepik berwarna kuning emas,merah emas atau perak unik sekali rasanya.

pernah suatu hari kami berinisiatif untuk memeliharanya. dimasukkan ke dalam plastik transparan yang digelembungkan, diikat ujungnya kemudian diberi sedikit lubang kecil untuk udara bernafas lewat. tak lupa diberi beberapa helai daun supaya bisa makan. jika kami berangkat sekolah,makhluk kecil itu  turut serta ke dalam tempat pensil masing-masing. saat jam istirahat tiba,kami akan membuka tutup tempat pensil dari besi itu bersama lalu menceritakan keadaan kepiknya masing-masing persis seperti ibu-ibu yang bertukar cerita tentang tumbuh kembang anaknya. namun semua tak tak bertahan lama ketika kami tahu Si Kepik Emas malah menjadi lemah dan tidak mau makan. kami lepaskan tapi tak mau terbang,hanya berjalan merangkak mengenaskan. semenjak itu kami sadar,kepik emas tanpa terbang sangatlah tidak menarik. selanjutnya akan lebih baik jika kepik itu dibiarkan bebas. selain itu berhentinya observasi memelihara kepik emas karena dimarahi ibu guru yang memergoki sedang bermain-main bersama kepik saat pelajaran berlangsung. sepulang sekolah kami diceramahi habis-habisan tentang betapa tidak berbudinya manusia yang menyiksa hewan.

karena tidak sesuai dengan pelajaran pancasila dan budi pekerti yang diajarkan di sekolah,maka kami putuskan untuk kembali melepas kepik emas itu ke angkasa. hanya sekedar menangkap lalu melepasnya,setiap sore hari dengan naik sepeda mengayuh bebas,sebebas- bebasnya, laksana kepik yang akan diterbangkan ke udara. lalu saat genggaman dibuka kepik-kepik itu lari ke ujung jemari bersiap untuk terbang. ketika hewan kecil itu merentangkan sayapnya untuk terbang tak terkira betapa senang rasanya. (titik-titik kecil itu berbaur bersama burung-burung yang terbang rendah kembali ke sarangnya juga bersama kelelawar malam yang bersiap mencari makan. dilatari warna langit yang merah jingga alam terlihat sangat memesona.)

anehnya selama bertahun-tahun kami menangkapnya, kepik itu tak pernah habis. lapangan itu beserta perdu-perdu liar telah menjaganya. bersama makhluk hidup dan tumbuhan lain menjadi satu kesatuan menciptakan sebuah ekosistem yang utuh dan seimbang.

namun sayang sekali,12 tahun kemudian,terakhir kami ke sana tempat itu sudah kehilangan separuh tubuhnya. berubah menjadi rumah-rumah penduduk baik yang mewah maupun yang susah (sepetak rumah kecil yang dihuni melebihi kapasitas normalnya).  sisanya ditempati mobil-mobil bobrok yang mendongkrok karena tidak layak jalan (atau karena tak mampu beli bahan bakar? entahlah,yang jelas pemandangan di lapangan itu kini lebih mirip dengan pembuangan akhir mobil bekas di luar negeri. huh,kaya juga ternyata negeri ini!)

yang mengenaskan adalah rumput liar yang tumbuh makin memanjang. jika diukur setara dengan tinggi pinggang orang dewasa. padahal dahulu rumput di sini tak pernah setinggi ini karena seringnya diinjak kaki-kaki setiap hari. juga hilangnya tawa riang,semangat anak-anak yang sedang bermain.

beberapa pasang mata kecil sekecil mata kepik mengintip dari balik jendela rumah masing-masing mengamati kami yang berdiri mematung sambil sesekali menajamkan telinga,berharap euforia sore hari itu kembali. anak-anak yang dulu kecil kini sudah tumbuh dewasa,naik ke satu lapisan generasi selanjutnya meninggalkan dulu yang pernah ditapaknya. sedangkan generasi berikutnya,generasi yang seharusnya menggantikan generasi anak-anak yang bermain di lapangan itu kini telah kehilangan tempatnya dan lebih senang berada di dalam rumah bermain playstation, game box,nonton televisi atau ikut kontes-kontes menyanyi. sisanya menghabiskan jam bermain mereka di dalam mal atau pusat perbelanjaan dengan berbagai bentuk mainan instan dan serba praktis. tak ada lagi tubuh lincah berlari. tak ada lagi kaki yang mengayuh sepeda atau menendang bola,tangan yang mengulur tali layang-layang, nyanyian lantang ceria serta tangis atau pertengkaran sesekali terdengar. dan yang paling menyedihkan: tak ada lagi  kepik emas.

kami jadi teringat lagu gang kelinci. lagu yang sempat mengiringi kami menari di pentas sekolah dulu. lagu yang bercerita tentang kerajaan kelinci yang terdesak oleh manusia. kelinci-kelinci itu lalu lenyap. sebagai gantinya anak-anak manusia tumbuh bulat tak bisa tinggi persis seperti anak kelinci. seperti sebuah kutukan. benarkah mereka dikutuk? atau hanya faktor kurang gizi saja yang buat mereka tak bisa tumbuh tinggi?

entahlah,generasi- generasi sesudah kami itu tiba-tiba tumbuh jadi generasi virtual yang mirip kepik: tak punya rasa. hanya melihat,memandang lalu terbang. dapatkah kepik-kepik itu juga mengutuk apa yang telah dilakukan generasi kami kepada mereka? kemudian mereka mengutuk pada generasi-generasi sesudah kami karena tak disisakan tempat untuk hidup?

salah satu dari kami kemudian bercerita tentang berita yang dibacanya tadi pagi. tentang seorang remaja di jepang pecandu game yang membunuh 14 orang di jalanan. empat dari kami menyimaknya dengan mata sedih merana. tidak hanya prihatin betapa murahnya harga dari sebuah nyawa,juga betapa tidak ada rasa bersalah sedikitpun dari pembunuh itu.

ingatan kami kembali pada kepik-kepik itu. segenggam kepik emas yang kami lepas ke angkasa dulu mungkin kini telah mengungsi. pergi jauh meninggalkan bumi menuju tempat lain yang kami tak tahu dimana itu. kami kawatir,jika kami ceritakan masa kecil kami dulu dan tentang kepik emas pada cucu-cucu kami,mereka tak akan percaya dan bertanya: “kepik emas itu apa?”. atau mereka tak akan pernah mengerti karena kami bercerita pada generasi yang tak pernah bersentuhan dengan alam. generasi yang hilang rasa pada akhirnya.

jika dipertemukan lagi kami ingin berterima kasih kepada segenggam kepik emas yang kami lepas ke angkasa itu. berterima kasih karena telah membuat masa kanak-kanak kami jadi bahagia. berterima kasih karena telah memberi kami rasa. rasa akan sentuhan makhluk hidup ciptaan Tuhan. nyawa-nyawa yang hadir bersama kita yang seharusnya kita jaga dan lindungi keberadaannya.

kepada segenggam kepik emas yang kami lepas ke angkasa itu ingin kami sampaikan kata maaf. maaf yang sebesar-besarnya karena tak mampu menjaganya. juga atas kelakuan kami dulu yang sering menyiksa dan mempermainkannya. (oh betapa kami sangat rindu dengan kepik emas juga khawatir jika suatu hari nanti tak akan pernah melihatnya lagi)

tanpa disadari,bukan hanya kepik emas itu saja yang pergi berlari. masa kecil kami juga ikut berlari bersamanya.. . dan lapangan itu…

ada layang-layang yang putus talinya,terbang tanpa arah kemana dia suka.

dilatari langit biru dia menari

menari bersama angin

menari bersama matahari

ditiupi angin yang terbang sama ringannya

dia juga bermain

bersama burung yang terbang sore itu,ketika petang menjelang,ketika matahari baru saja akan turun

atau kala pagi saat sinar mulai beranjak lari ke ujung bumi

dia disana,masih disana dan terus disana

terbang berputar-putar tiada henti

entah bahagia atau tidak,kulihat dia tanpa beban

apa yang dikejar?

seperti mengejar awan yang berarak-arakan dan terus berjalan

ataukah mengejar bintang?

pasti harus menunggu sampai malam tiba…

oh malam pasti tak akan rela dia merebut pelita kecilnya itu!

entah mendapatkannya atau tidak,kulihat tak sekalipun dia berhenti bermimpi

dia baru akan berhenti jika benar-benar mati

ketika sayapnya tak mampu lagi menahan kencangnya angin

atau kala hujan mengguyur membasahi tubuhnya

kertasnya akan hancur,hanya tinggalkan rangka

dia akan jatuh ke bumi

tanpa tali

tanpa sayap

tanpa rupa

tanpa daya

terjun bebas ke tempat yang entah dimana

jika itu terjadi,

tak ada lagi layang-layang putus yang menari

tak ada lagi si bebas yang mencuri hati

tak ada lagi pemandangan sore seperti hari ini

tak ada lagi pikiranku yang melayang terbang bersamanya

aku akan berhenti memperhatikannya

dan mungkin esok aku sudah lupa

(untung saja dia tak peduli,dia masih di atas sana terus menari sehingga aku masih bisa menikmati hari ini sebelum petang datang menjelang)

revolusi semut

April 13, 2008

revolusi semut…

semut berpindah. semut membangun rumah. mengais remah-remah sisa makanan untuk bertahan hidup. hidup memang singkat buatnya dan dunia boleh dibilang terlalu besar untuknya,tapi semangat semut tak pernah surut. bekerja siang malam kumpulkan makanan agar sanggup bertahan.

hidup berat bagi manusia namun lebih berat lagi hidup semut. ukurannya kecil dan selalu kalah. dia terlalu lemah. berumur pendek dan cepat mati. selalu jadi bulan-bulanan manusia ditindas dengan berbagai cara baik secara sengaja maupun tidak. secara fisik,mental dan spiritual semut telah tersakiti sedemikian rupa. semut dapat dengan mudahnya bisa tenggelam dalam segelas kopi,semangkuk sup. atau ikut hanyut saat piring tercuci. dia juga bisa ikut tergoreng dalam minyak panas dan siap jadi pelengkap gorengan yang… krriiiuukk! tapi semua kerja keras itu rela dilalui demi satu tujuan: mendapat makanan.

manusia yang keras meneriakkan hak-hak asasi rupanya lupa dengan yang satu ini. padahal semut merupakan makhluk yang paling dekat dengannya. namun nyatanya malah jadi hewan yang paling sengsara. hak mereka dirampas. hidup mereka ditindas. hutan-hutan tempat berjuta-juta kerajaan semut ludes dibabat,disapu kobaran api dan tak ditanami lagi. tanah-tanah tempat menyembunyikan telur serta menimbun makanan jadi berkurang bahkan hilang samasekali. disulap menjadi beribu-ribu hektar beton sebagai gantinya. semua milik manusia hanya buatan. semua hanya tinggal tiruan. manusia tak lagi pikirkan alam. yang mereka pedulikan hanya kenyamanan.

semut bingung mau kemana. semua jadi sasaran tempat hunian manusia. segalanya dikuasai manusia. padahal jumlah mereka banyak. menyelimuti hampir seluruh permukaan bumi.

akhirnya semut ikut-ikutan jadi manusia. ikut jalan-jalan di mal,menginap di hotel berbintang lima,menemani nonton bioskop bareng anak-anak SMA. atau hanya sekedar nongkrong di kafe,dugem di bar adalah hal biasa. ikut dandan di toilet wanita,naik bis umum—yang naik pesawat juga ada.  mungkin itu yang menyebabkan munculnya tebak-tebakan ala anak SD: ‘hitam,kecil larinya cepat apa hayo?’. lalu mereka serempak menjawab: ’semut nempel di pesawat jet…’

mereka juga terbagi menurut profesi masing-masing. ada semut dapur. seperti namanya,semut ini kerjaannya di dapur. tugasnya membantu orang masak (baca: mengganggu) mulai dari ibu rumah tangga sampai chef di restoran ternama. ada juga semut rumah sakit. kerjaan mereka adalah membantu para perawat dan menjaga pasien. imbalannya adalah menggerogoti sepuasnya makanan yang lupa dimakan atau lalai dalam penyimpanan. atau bisa juga mereka sibuk menjilati segala sesuatu yang jatuh ke lantai yang menurut mereka ‘manis’. di sekolah juga ada. sebut saja semut sekolah. kerjaannya ikut sekolah bersama siswa lainnya dan tak ketinggalan menemani siswa nakal yang makan saat jam pelajaran. tak mengherankan jika mereka juga ikut-ikutan kerjaan anak sekolah. ikut cabut,makan di kantin,bolos upacara,berangkat terlambat. walhasil mereka jadi ikut dihukum guru BK karena melanggar tata tertib. kemudian ada lagi semut penulis. kerjaannya adalah menemani penulis yang begadang malam sambil makan camilan (huu!). serta masih banyak lagi profesi semut lainnya.

bayangkan jika setiap profesi manusia diwakili oleh seekor semut. dari milyaran juta jiwa manusia hitunglah berapa banyak pekerjaan di dunia ini. dan jumlah semut lebih dari itu. jumlahnya lebih banyak daripada manusia. pertumbuhannya lebih cepat daripada jumlah ledakan penduduk tercepat di negara manapun. meski usianya singkat namun dalam sekejap jumlah mereka selalu bertambah tiap harinya bahkan tiap hitungan jam. jadi ketika ada satu semut yang mati maka kira-kira ratusan semut baru siap mengganti. istilahnya gugur satu tumbuh seribu. dan lebih mengerikan lagi jumlah mereka ternyata hingga triliunan yang terbagi lebih dari 14000 spesies. karena itulah semut jadi hewan yang mendunia. semua orang seluruh penjuru dunia juga tahu. tak pandang benua,negara atau pulau. mulai dari yang luas,besar bahkan sempit sekalipun. mulai dari yang kaya sampai yang miskin,kulit hitam sampai kulit putih,setengah coklat dan kuning semua tahu semut. semua kenal semut. dan semua pernah melihat semut. ada yang tidak pernah melihat semut? ada yang tidak tahu semut? mungkin hanya mereka-mereka yang (maaf) tidak bisa melihat dunia sejak lahir.

semut memang merakyat. semut temani manusia setiap saat. sayangnya mereka juga punya masalah klasik sama seperti manusia: berkembang biak. manusia dan semut berlomba-lomba untuk jadi banyak. setelah banyak lalu berebut mencari tempat supaya bisa tetap hidup. peperangan yang tanpa kita sadari telah lama terjadi. manusia bisa saja melenyapkan makhluk kecil itu dengan sekejap. dengan obat serangga,kapur semut atau berbagi macam ramuan racun yang bisa memusnahkannya.  karena manusia adalah superpower,penguasa terbesar dimuka bumi. tak heran jika banyak dari mereka yang menuhankan diri sendiri.

jika mau semut bisa hancurkan segalanya. mereka bisa datang beramai-ramai pada kita,memasuki rongga-rongga dalam tubuh kemudian masuk bersama aliran darah menuju organ-organ,menghentikan seluruh sistem di dalamnya dan membuatnya jadi tak berfungsi. hal yang selama ini terlalu dianggap remeh manusia. bahkan ada pula semut di  afrika yang saking ganasnya sampai-sampai makhluk hidup yang melewati koloni mereka tidak akan pernah keluar dalam keadaan bernyawa. mirip ikan piranha lebih tepatnya.

tapi semut tak mau sekejam itu. dia masih hormati manusia. seperti makhluk-makhluk lainnya jauh sebelum mereka yang tunduk pada adam dan hawa. semut tak mau jadi durhaka seperti para iblis yang akhirnya menghuni neraka. manusia makhluk paling sempurna. sayang tak seorangpun menyadarinya. mereka habiskan banyak waktu hanya untuk berdiam diri dan malas-malasan. sedangkan semut tak pernah berhenti bekerja keras kumpulkan makanan. manusia dalam perjalanannya mudah menyerah dan putus asa. semut tak mengenalnya,seluruh hidupnya dihabiskan untuk bekerja. dipertaruhkannya seluruh nyawa tak peduli apakah hidupnya akan segera berakhir atau tidak. manusia juga sibuk mencari perbedaan diantara kesamaan. diantara sesama mereka sendiri,bangsa mereka sendiri. perang saudara terjadi dimana-mana. sedangkan semut adem ayem saja. mereka tak pusingkan soal harga diri pribadi dan mengedepankan kebencian,iri serta dengki. semua berjalan beriringan untuk capai satu tujuan. demi keselamatan dan kemajuan koloni mereka rela korbankan apapun.

jadi teringat sepenggal lagu crishye,
malu aku malu…
pada semut merah…
yang berbaris di dinding menatapku curiga
seakan penuh tanya
sedang apa disana?

sedang apa kalian manusia? kau gunakan untuk apa waktumu hari ini? sudahkah kalian bekerja keras hari ini?

jangan heran jika suatu hari nanti kita dikalahkan oleh seekor semut. kenapa tidak? mereka sepuluh kali bahkan seratus kali lipat lebih rajin dari kita. mereka punya kekompakan,saling bersatu padu satu dengan yang lain. jangan heran juga jika suatu saat nanti akan datang hari dimana manusia sudah tak mampu lagi memimpin dan memelihara dunia. kedudukan kita akan diambil alih oleh makhluk lain. kenapa tidak? ketika mereka sudah terlalu kesal dengan ulah kita. merasa dirugikan dengan keputusan-keputusan kita. ketika banyak bencana terjadi karena ulah kita. mereka bisa berontak. mereka punya kekuatan. mereka punya jumlah besar.

revolusi semut??
hmmm……

lagu masa lalu

Maret 22, 2008

beberapa hari yang lalu saya menemukan kembali kaset masa kecil saya. Sherina,andai aku besar nanti… kalau dicermati liriknya bagus juga,,

hmm, saya menyanyikannya waktu masih kecil biasa-biasa saja tapi sekarang… kok? yah lebih baiknya baca sendiri saja yaH…

ANDAI AKU BESAR NANTI

by: Sherina Munaf

andai aku t’lah dewasa…

apa yang kan kukatakan? untukmu idolaku tersayang,ayah…

oh andai,usiaku berubah…

kubalas cintamu,bunda…pelitaku,penerang jiwaku dalam setiap waktu…

ooh kutahu kau berharap

dalam doamu kutahu kau terjaga,

dalam langkahku kutahu selalu cinta,

dalam senyummu…

oh Tuhan kau kupinta,bahagiakan mereka sepertiku

andai aku t’lah dewasa ingin aku persembahkan

semurni cintamu,

setulus kasih sayangmu…

kau selalu kucinta….

……I love u ayah,,I love u bunda….

matahari terbit

Februari 22, 2008

matahari terbit

mencari nurani

Februari 22, 2008

Hidup ini penuh pilihan. Itu yang sering kau katakan padaku. pilihan untuk menjadi senang atau sedih,baik atau buruk,benar atau salah dan tersakiti atau tidak tersakiti. aku hanya menanggapi dingin. aku tak peduli. bagiku ucapanmu lebih mirip iklan di TV, iklan kartu telepon seluler lebih tepatnya. komersil sekali!

 

aku tertawa. dalam hati aku menertawakanmu,sungguh! kau begitu lucu,sangat lucu. kau selalu menasehatiku ini,itu,anu,seharusnya,lebih baik…. mungkin aku perlu bawakan kamu sebuah cermin dengan ukuran ekstra besar supaya kamu bisa lihat sendiri rupamu disana. bodoh!

 

kamu terlalu kuno,terlalu kaku,terlalu lugu. tak pantas hidup di jaman edan seperti ini. tapi tak sampai hati kukatakan padamu. aku terlalu kasihan padamu. entah bagaimana seharusnya,jauh di lubuk hatiku ingin aku mengusirmu jauh-jauh dari hidupku. kasihan kau…

 

aku ingin nikmati dunia,bersenang-senang didalamnya dan hancur lebur bersamanya. bagiku itu indah. dunia terlalu indah jika hanya dilihat namun akan lebih indah lagi jika dirasa. aku ingin mengajakmu,tapi kamu tak pernah mau. katamu,dunia ini hanya permainan. permainan?? aku jadi heran bagaimana sesuatu seindah ini hanya kau samakan dengan sebuah permainan. kau bilang lagi,permainan suatu saat pasti ada akhirnya. di akhir itu pasti ada yang menang dan yang kalah. yang menang dapat hadiah sedangkan yang kalah dapat musibah (baca: hukuman).

 

aku tidak terima. menurutku aturan itu terlalu kejam. kasihan sekali yang kalah harus menderita sedangkan yang menang pasti tertawa-tawa melihat yang kalah dihukum. aku tidak suka. bagiku menang atau kalah itu hanya soal keberuntungan saja. seperti judi,dunia ini penuh taruhan. mempertaruhkan segala yang kau punya untuk dapat kesenangan. jadi rugi kan jika kita sudah pertaruhkan segalanya tapi memilih sengsara dan derita sebagai tujuannya?buat apa coba?

 

kamu tersinggung dengan ucapanku. bagimu aku telah lukai kamu karena menurutmu dibalik sengsara itu pasti ada bahagia,sedangkan dibalik bahagia itu belum tentu ada bahagia yang lebih dari sekedar bahagia. nah lo? bingung kan? aku jadi sangat tidak mengerti apa sebenarnya maumu. bagimu dunia hanya berisi dua warna: hitam dan putih. ah pusing kalau dengerin kamu ngomong!

 

dua hari ini aku tak mendengar suaramu dan omongkosongmu. mungkin kamu masih marah karena perkataanku waktu itu. tapi tak apalah biar sekali-kali kamu sadar bahwa kamu tak selamanya benar,biar kamu tahu kalau kamu itu terlalalu kuno,terlalu kaku,terlalu lugu. biar kamu tahu kalau kamu itu jelek. rupamu seperti hantu. enyah kau! bawa pola pikirmu yang sok tahu itu! jangan pernah mengguruiku!

 

tanpa ada kamu rasanya dunia ini jadi lebih baik. aku jadi lebih bebas sekarang. aku bisa tertawa sepanjang hari tanpa harus dikomentari. aku bisa berbuat apapun sesuka hati tanpa harus diingatkan dengan tetek bengek yang sudah seperti sampah itu.

 

dua minggu sudah kamu tak datang. hatiku bertanya-tanya ada apakah gerangan?

 

tiga minggu kamu tak datang lagi

 

empat,lima,enam,tujuh dan seterusnya tetap tak datang

 

aku jadi semakin senang. Mungkin ini jawaban doaku waktu itu. pergilah yang jauh biar aku tak bisa lihat kamu lagi!

 

dunia semakin indah,semakin berwarna,semakin terang. aku berputar-putar tak karuan. aku pertaruhkan segala yang kumiliki agar bisa bersenang-senang. mulai dari yang terkecil hingga yang paling besar sekalipun. tapi aku tak pernah rugi karena selalu dapat ganti yang lebih besar lagi dari semula. lama-lama aku semakin ketagihan.

 

terus kupertaruhkan semuanya. tapi kali ini aku tak cukup beruntung. aku tak dapat untung. kucoba lagi,lagi dan lagi tapi aku tetap tak untung. aku tak dapat ganti yang lebih besar. aku jadi rugi. tapi tak apalah,aku belum menyerah. kupertaruhkan milikku yang terakhir berharap ia menolongku. aku salah. aku kalah. aku jadi kalah. aku sudah kalah.

 

aku lupa judi juga permainan. ada yang menang dan yang kalah. dan dalam pertaruhan kita tidak bisa memilih untuk jadi menang ataukah jadi kalah. aku benar,ini hanya soal keberuntungan saja. tapi aku rugi. aku rugi karena tak bisa memilih….

 

aku jadi ingat kamu… kamu lebih tahu rupanya… tapi sudah terlambat. aku sudah kalah….

 

kamu pergi tak pernah kembali lagi. aku ingin mencarimu,aku ingin menyusulmu. aku ingin ketemu kamu kemudian minta maaf. aku janji takkan pernah sakiti kamu lagi.

 

kamu tak pernah sekalipun pulang. ada yang bilang kamu sudah mati. jahat sekali bilang kamu mati! tapi alasan apalagi yang masuk akal tentang keberadaanmu? kamu tak akan tinggalkan aku selama ini. kamu pasti juga tahu kalau aku sudah jera. kalau aku sudah mengaku salah.

 

aku kalah dan aku sudah lelah. semua telah musnah. aku menyerah. hukuman sebentar lagi kudapat. aku tak kuasa menanggungnya seorang diri meski ini semua kesalahanku tapi sungguh,tak bisa kuhadapi jika tanpamu! tanpa keberadaanmu aku tak ada apa-apanya. aku hampa… bukan siapa-siapa… hanya seonggok daging yang berjalan. tak lebih baik dari sesosok bangkai!

 

aku frustasi mencarimu. tak juga kutemukan kamu. mungkin benar kata mereka,kamu pergi jauh sekali.

aku ingin menyusulmu. aku ingin segera susul kamu. karena itu aku mau lompat dari gedung tinggi ini biar bisa cepat mati. kalau sudah mati mungkin kita bisa ketemu lagi. namun kutahu semua itu tidak akan terjadi. karena kamu pasti ada di surga sedang aku di neraka.

 

biarlah tak apa,lagipula aku sudah tak sanggup lagi jalani hidup. aku sudah hampa. sampai jumpa…

 

 

 

 

rintik hujan masih terasa

dingin menusuk jantung

beku dan membiru

gelap dan kelabu

masih adakah sisa mentari?

atau sinarnya hanya ilusi?

ini adalah negeri seribu hujan

selamat datang,anda akan merasakan hujan sepanjang hari

negeri kami begitu damai…

rasakan rintik hujan itu!

begitu merdu…

begitu syahdu…

begitu haru…

ketahuilah,disinilah tempat yang tepat untuk melepas lelah

dimana setiap orang bisa merasakan tidur dengan lelap

lupakan semua masalah,gelisah dan air mata

takkan ada tangis disini

silahkan,beristirahatlah!

tamu dari negeri seberang itu bercerita padaku tentang matahari

akupun bertanya,”Apakah gerangan matahari itu?”

Diapun menjawab,”Sumber Kehidupan”

aku membayangkan sosok matahari,

mungkin dia telaga

atau sungai di tengah padang gersang,sumber kehidupan

“Bukan itu!”,sanggahnya

matahari itu berupa sinar,

cahaya besar,

sangat besar…

mahacahaya,katanya

aku semakin tidak mengerti

bagaimana mungkin  sebuah cahaya menjadi sumber kehidupan?

di negeriku–yang kutahu–cahaya hanya digunakan untuk penerangan

biasanya berupa api yang menyala,lilin atau yang terbaru berupa lampu

itupun hanya digunakan pada malam hari atau jika terpaksa pada keadaan yang sangat gelap gulita

tamu itu menjelaskan semakin lama semakin menyenangkan

semakin lama aku semakin larut

semakin lama aku semakin mengerti

semakin lama aku dibuatnya penasaran

matahari… seperti apakah kamu? Wujudmu? Rupamu?

aku ingin bertemu!

aku ingin melihatmu!

kukira mentari telah pergi

ataukah dia hanya bagian dari ilusi?

hangatnya kurasa telah pudar,

dan cahayanya kurasa telah kelam

sumber kehidupan,

tak bisa kurasakan dirimu lagi!

jalanku menjadi gelap dan tanpa arah

apakah kau benar-benar telah pergi,mentari?

jangan kau tinggalkan aku!

aku tak bisa hidup tanpamu!

dan aku mencarinya,

hingga ke negeri hujan…

negeri itu sepi,sunyi dan gelap

mungkin karena hujan turun sepanjang hari

ah,suara rintik hujan…

begitu merdu…

begitu syahdu…

begitu haru…

tepat yang tepat untuk melepas lelah

disini aku bisa tidur lelap

sekedar untuk beristirahat

melepas lelah susah dan gelisah

melupakan semua masalah…

tapi bukan itu tujuanku!

aku hanya ingin mencarimu,mentari

aku hanya ingin temukan dirimu…

hmm,baiklah jika begitu

aku akan pulang esok pagi…

meski semua orang yang datang dengan negeri hujan,tidak dengan aku

bagiku tempat ini membosankan!

bagaimana tidak?

hujan turun sepanjang hari,

sepanjang waktu

jalanan selalu basah karena hujan

selokan jadi ikut tergenang

belum lagi udaranya,

wuiiih dingin!

dan juga langitnya,

selalu mendung dan berawan

terkadang halilintarjuga ikut menyambar

cacing tanah keluar dari sarangnya berpesta sepanjang waktu–mungkin hanya mereka yang selalu bahagia saat hujan turun,

selabihnya kami penduduk negeri hujan hanya merasa datar

senang tidak,sedihpun tidak

hujan bagi sebagian orang adalah anugerah

kata Pak Kades,diluar sana masih banyak  negeri yang inginkan hujan

tanahnya gersang dan persediaan airnya kurang

kita harus bersyukur,katanya

namun hujan juga bawa musibah

hujan yang terlalu lama telah membuat penduduk hujan jadi berwarna biru

ini bukan lelucon!sungguh!

lihatlah badan kami semua: jadi biru!

tak jarang jika lemah,tubuh kamipun menggigil

dan setiap tahunnya seperempat dari penduduk kami meninggal karena dingin

meski makanan tercukupi dan bantuan selalu datang,

tetap saja…

yang kami inginkan saat ini adalah,kehangatan!

hangat atau panas sekalian!

hingga suatu hari pria itu datang…

bersama matahari dan mimpi tentang mahacahaya…

gadis kecil itu datang menghampiriku malu-malu

“paman dari negeri seberang ya?”

aku tersenyum kemudian mengangguk mengiyakan

“apa disana juga  hujan sepanjang waktu?”

aku menggeleng

kemudian ia bertanya lagi,

“paman matahari itu seperti apa?”

dengarlah mentari,dia menyebutmu matahari…

lucu benar anak ini…

tak apalah kujelaskan saja tentang dirimu toh kau dan matahari hampir sama

lagipula kasihan juga dia

seumur hidupnya tak pernah melihat matahari…

hariku telah usai,

aku harus segera pergi

untuk temukan mentari..

cintaku!

harapanku!

hidupku!

akan kucari kemana kau pergi

akan kukejar jika kau berlari

pagi ini dia berpamitan

waktu aku bertanya apakah tidak terlalu cepat?

dia hanya tersenyum

masih banyak yang belum selesai,jawabnya

seketika aku terisak

air mata jatuh tumpah bercucuran

aku tak tahu mengapa

rasanya begitu berat dan begitu sedih

dia telah beri sesuatu yang sungguh tak kumengerti

rasanya…ada sesuatu dalam dirimu yang hidup secara tiba-tiba

apakah ini yang dinamakan harapan?asa?atau mugkin,cinta?

dia datang bersama matahari,sesuatu yang tak pernah kulihat samasekali

tapi bisa kurasakan…

cahayanya…

hangatnya…

sinarnya…

Jangan pergi!

Kumohon jangan pergi!

Gadis kecil itu menghalangi langkahku

“Tinggallah satu hari atau ajak aku pergi bersamamu!”,katanya

ayolah,waktuku tak banyak… aku harus mencari mentari…

“kumohon…”,ratapnya lagi

entah bagaimana aku jadi iba padanya

kurangkul bahunya dengan sebelah tangan

“hey,kalau kau terus menangis seperti ini,kau takkan bisa melihat matahari…”

seluruh sedihnya serasa tumpah

dukanya,dinginnyadan sepinya…

aku bisa merasakannya

bisa kubayangkan betapa dinginnya hidup di negeri hujan

tubuhnya begitu kecil,dan dia menggigil

kulitnya membiru,kasihan sekali

betapa matahari itu sangat berarti buatnya dan negeri ini

aku ambil secarik kertas,

kuganbar dirimu

sama merananya,

sama menderitanya…

rindunya pada matahari sama dengan rinduku padamu

dingin hatinya sama dengan sepiku tanpa hadirmu

dan gundahnya,sama dengan gelap hatiku tanpa sinarmu

kurasa sama

sebagai manusia…

“aku akan mencarinya,jika sudah dapat akan kutunjukkan padamu”

kutinggalkan matahari itu untuknya dan bergegas pergi

tidak!

tinggallah sehari lagi atau bawa aku bersamamu!

dia hanya tersenyum kemudian memberiku secarik kertas

dia menggambar matahari!

kemudian dia menyuruhku berjanji

usah kau menangis lagi

matahari ini kan menemani

jangan menyerah,suatu saat dia kan mengahampiri

jika waktu itu datang,kejarlah!

tangkaplah sianarnya

dan jangan kau lepas cahayanya

bila kau bisa menggapainya

takkan ada lagi dingin di negeri hujan

takkan ada lagi orang yang mati karena kedinginan

takkan ada lagi tubuh menggigil membiru

dia akan mencari kemudian menunjukkan padaku suatu hari nanti

aku pergi mencari mentari

mencari dan terus mencari

tak hanya untuk diriku sendiri

tapi untuk negeri hujan

dan semua orang

yang rindu kehangatannya,sinarnya juga cahayanya….

aku masih menunggunya

aku masih menantinya

suatu saat dia pasti datang bersama matahari

namun aku takkan menyerah

aku akan jadi kuat

aku akan berusaha sekuat tenaga

kan kubawa matahari itu ke negeriku

dengan tanganku!

dan suatu hari nanti

kita pasti bertemu lagi,

pasti…

pria matahari……

filosofi gema

Januari 21, 2008

pernah dengar filosofi gema? jika belum mohon baca tulisan saya,,mungkin akan berguna…

sekedar berbagi cerita,,waktu bulan ramadhan kemarin ada penceramah yang menyampaikan topik ini di sela-sela shalat tarawih. Lumayan juga… Ada benarnya juga menurut saya jika direnungkan..

Jadi begini    : jika anda tidak tahu apa itu gema,pergilah ke tempat yang tinggi kemudian berteriaklah keras-keras. Dijamin (jika sistem pemantulan berfungsi baik) anda akan mendengar suara anda kembali setelah itu,atau jika yang terjadi gaung maka tidak menutup kemungkinan  suaranya akan kembali secara hampir bersamaan dengan ketika anda berteriak tadi.

      Moral value    : “Dalam hidup ini apapun yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita”

Entah itu baik atau buruk,benar maupun salah, berguna maupun tidak pasti akan kembali pada kita. Segala sesuatunya pasti akan dipertanggungjawabkan kelak.

Hmm,,jadi merinding… Yah itulah hidup. Masuk akal juga yaH?!

v( ^_^)v

dunia penuh makna…

Januari 4, 2008

Halo semua,,, selamat datang di sejutamakna…

temukan makna anda…

karena hidup itu penuh makna,,penuh rupa…

dimulai ketika bangun tidur,,

manusia beraktivitas dan bekerja untuk bertahan hidup

mengejar mimpi dan berlari

melupakan makna dan jatidiri

makna itu tiada lagi,,

di dunia ini setiap orang saat ini menginginkan materi,,

namun ketika didapat,tak satupun mau berbagi…

silahkan tinggalkan pesan dan temukan maknamu!

_racH

Halo dunia!

Desember 31, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!